Selain punya daerah tujuan wisata yang indah, provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah punya kearifan lokal tersendiri dalam urusan kuliner. Bisa dibilang hampir setiap kota punya makanan khas masing-masing yang dapat dibanggakan oleh warganya.

Kali ini, kami mendapatkan kesempatan mengeksplorasi kuliner provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah bareng Mitsubishi Motors dalam Xpander Media Touring 2018. Selain memanjakan perut dengan makanan-makanan yang jarang ditemui di Ibukota, kami para jurnalis juga dapat menguji kemampuan sesungguhnya dari MPV rakitan PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (PT MMKI) di sepanjang jalur antarkota dari Yogyakarta ke Semarang.

Memang kami pernah menguji Xpander selama empat hari untuk rubrik Drive di Thegaspol.com. Namun keterbatasan waktu membuat kami hanya menguji calon MPV sejuta umat ini di dalam kota Jakarta, jalan bebas hambatan dan jalur wisata Puncak, Jawa Barat.

Perjalanan selama tiga hari dua malam, Kamis – Sabtu (8-10/3) ini dibagi menjadi dua etape. Etape pertama adalah Yogyakarta – Semarang, dan etape kedua adalah Semarang – Ambarawa. Menu jalur bebas hambatan dan pegunungan yang disajikan, menurut kami cukup mewakili mayoritas kontur jalan yang ada di Indonesia untuk menguji Xpander secara total.

Etapa Pertama

Selepas mendarat di Bandara Adi Sumarmo Yogyakarta, kami langsung disambut oleh 10 unit Mitsubishi Xpander yang akan membawa kami dalam perjalanan Media Touring kali ini. Varian Ultimate menjadi menu pembuka perjalanan kami di Etape Pertama ini.

Dari Bandara, rombongan mengarah ke sebuah warung Soto Bathok di bilangan Sleman. Sosok warung sederhana yang sejak pagi sudah diramaikan warga lokal untuk sarapan, cukup mewakili ekspektasi kami seenak apa menu soto ayamnya.

Benar saja, disela perbincangan antar rekan media dan manajemen dari PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (PT MMKSI), hidangan pun datang. Aroma segar semangkuk soto yang terbuat dari sebuah batok kelapa langsung merangsek indera penciuman kami. Tak salah lagi, rasanya pun semenarik aromanya.

Selepas menikmati sarapan, kami menuju ke Jalan Kaliurang untuk melakukan wisata di lereng Gunung Merapi. Jalur jalan dua arah yang tak begitu lebar, tak menjadi kendala bagi pengendalian Mitsubishi Xpander.

Namun kontur jalan menanjak yang khas dari kawasan pegunungan, cukup membuat Mitsubishi Xpander bertransmisi otomatik 4-percepatan tergopoh-gopoh mengikuti flow rombongan depan. Solusinya kami terpaksa harus rajin memainkan tombol overdrive di tuas transmisi otomatik untuk mengantisipasi rasa under power tersebut untuk tetap berada dalam jarak aman pada barisan.

Sesampainya di kawasan Gunung Merapi, kami berkumpul di sebuah titik pemberangkatan untuk memarkir Xpander. Kendati mobil ini punya ground clearance setinggi 205mm, namun jarak tersebut masih dirasa belum aman untuk melibas jalur bekas aliran lahar dingin bagi Xpander.

Mengakali hal tersebut, kami diajak menunggang beberapa jip rental yang sudah disediakan untuk berkeliling di area wisata Gunung Merapi.

Satu hal yang menjadi catatan kami, bahwa menaiki jip-jip atap terbuka ini jauh dari rasa aman. Kondisi jalan yang rusak ditambah tingginya kecepatan saat sopir membesut jip bisa saja dengan mudah membuat salah satu penumpang terpental keluar dari mobil akibat minimnya sabuk pengaman.

Namun disitulah titik keseruannya. Siap tidak siap, suka tidak suka Anda hanya dapat berlindung pada rollcage empat titik yang ditanam langsung ke sasis sebagai pegangan tangan. Bila coba-coba untuk tak berpegangan tangan, maka siap-siap saja Anda akan terpental keluar dari mobil.

Setelah Gunung Merapi, kami bertolak ke kawasan Plataran Heritage Candi Borobudur, Magelang, untuk makan siang. Hujan yang turun terus menerus tak membuat semangat kami kendur. Apalagi menu jalanan dengan tingkat rata-rata kecepatan yang variatif sukses menghalau rasa kantuk kami.

Bentangan sawah hijau dengan jalur yang sempit membuat kami ekstra hati-hati dalam memutar roda kemudi Xpander. Apalagi saat tak sengaja berpapasan dengan pengguna jalan lain, kami tak ingin salah satu roda Xpander masuk ke got sedalam 20-30cm.

Menu makanan yang dihidangkan memang kental rasa manis sebagaimana hidangan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sejujurnya lidah kami yang lebih terbiasa menu makanan Sumatera, agak ‘tabrakan’ saat menyantap menu masakan Jawa yang manis. Namun itu hanya soal selera, toh pemandangan sawah hijau yang terbentang di kawasan Candi Borobudur ini berhasil mendominasi pikiran kami dari rasa makanan.

Kenyang dengan menu makan siang yang telah kami santap, kami segera menuju kota Semarang untuk mencapai tempat menginap di malam pertama. Perjalanan dari Magelang menuju Semarang didominasi oleh kontur jalan naik turun yang lebar serta ada jalan tol antar kota penghubung Ambarawa dan Semarang.

Di kecepatan rata-rata 60 km/jam di jalan antar kota menuju Semarang, kenyamanan suspensi Xpander dipertaruhkan. Meski jalan raya tersebut berstatus jalan negara kelas 1, namun tak sedikit juga ditemui permukaan aspal yang bergelombang hingga lubang-lubang kecil.

MPV dengan rentang harga Rp 194,1 juta hingga termahal Rp 250,4 juta ini berhasil unjuk gigi soal kenyamanan berkendaranya. Xpander Ultimate kami yang berisi empat orang sepanjang perjalanan ini, sama sekali tak mengeluhkan soal bantingan suspensi yang keras atau limbung saat di tikungan.

Konon pihak Mitsubishi Motors Corporation meracik bagian kaki-kaki Xpander dari basis kaki-kaki Lancer Evolution X yang punya kestabilan dan keakuratan pengendalian di trek reli. Oleh karenanya, urusan ayunan suspensi Mitsubishi Motors punya rumusan jitu untuk membuatnya tetap stabil dan nyaman.

Menuju tempat peristirahatan etape pertama, ruas tol Bawen – Semarang menanti kami dihadapan. Saat itu waktu menunjukan tepat pukul 19:00 malam. Jalan tol yang sepi membuat kaki kami gatal untuk menginjak pedal gas XPander dalam-dalam.

Namun atas dasar keselamatan bersama antara kami dan pengguna jalan lain, maka kecepatan rata-rata pun dikembangkan hanya mencapai 100 km/jam. Berkendara di jalan tol berlapis beton dengan kecepatan diatas 80 km/jam, seyogyanya akan menimbulkan guncangan-guncangan atau ayunan-ayunan kecil dari roda. Nyatanya Xpander mampu mengeliminir gerakan-gerakan tersebut dan tetap memberikan traksi terbaiknya di jalur bebas hambatan berkat fitur Traction Control yang diadopsinya.

Namun lagi-lagi, gejala under power dari mesin 1.5L MIVEC DOHC 16 Valve kembali timbul. Untuk mengais tenaga dari kecepatan menengah ke kecepata tinggi, tombol overdrive kembali harus dimainkan untuk mengunci putaran mesin agar membuatnya tetap bertenaga. Di jalan datar, hal itu bukan masalah.

Tibalah kami di hotel tempat peristirahatan pertama kami di kota Semarang. Separuh hari di Kamis (8/3) ini kami habiskan untuk mengeksplorasi Mitsubishi Xpander. Di Etape kedua nanti, kami berencana untuk bertukar kendaraan dengan Mitsubishi Xpander bertransmisi manual.

Seperti apa impresi berkendaranya, tunggu di bagian dua.