Di usianya yang telah mencapai 110 tahun, Ikatan Motor Indonesia (IMI) mendapatkan penghargaan dari Federation Internationale de Motocyclisme (FIM). Penghargaan ini diberikan bersamaan dengan pelaksanaan sidang umum tahunan FIM di Berlin, Jerman (26/11) lalu.

Berdiri sejak 27 Maret 1906, Ikatan Motor Indonesia (IMI) dahulu pertama kali bernama Javasche Motor Club yang berkantor di Semarang. Seiring perkembangan, namanya pun berubah menjadi Indonesische Motor Club (IMC).

Pascakemerdekaan atas jajahan pemerintah colonial Belanda, nama IMI resmi digunakan pada 1950 oleh pemerintahan Indonesia dan berada dibawah kekuasaan Departemen Perhubungan. Kedudukannya pun juga resmi berpindah dari Semarang ke Jakarta.

Hingga lebih dari satu abad lamanya, IMI menjadi satu-satunya induk organisasi yang menerbitkan soal aturan berkompetisi dan berkomunitas bagi kendaraan roda dua dan empat di Indonesia. Bersama sekitar 15 federasi sepeda motor negara lainnya yang sudah berkegiatan minimal 10 tahun hingga 120 tahun, Ketua Umum (IMI) Sadikin Aksa menerima penghargaan langsung dari presiden FIM, Vito Ippolito.

“Bagi IMI, penghargaan yang kami terima ini adalah suatu pembuktian akan keberadaan IMI sebagai salah satu organisasi yang bernaung di bawah FIM. Berumur 110 tahun adalah suatu pencapaian yang luar biasa bagi IMI,” jelas Sadikin.

Lebih lanjut Sadikin Aksa menyebutkan dalam prosesnya, banyak hal yang telah dilakukan IMI bersama dengan FIM. Kedepannya, kita akan terus berusaha untuk semakin berperan aktif menjalankan berbagai kegiatan FIM di Indonesia.

“Penghargaan ini merupakan suatu pengakuan atas eksistensi IMI selama 110 tahun, khususnya di berbagai kegiatan yang berhubungan dengan sepeda motor di kancah dunia,” tambah Ketua Umum IMI periode 2015-2019 tersebut.