IMG_5380_resize

Sempat terperangkap dalam kungkungan makelar mobil klasik tanpa dibekali informasi

Kerja keras adalah satu-satunya asa untuk mengejar mimpi. Kalimat bijak tersebut rasanya patut diimplementasikan dalam kehidupan. Untuk menggapai semua angan, manusia wajib berusaha. Pun begitu dengan yang dilakukan oleh Hengky Setiawan, SE, MM. Pria yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bisnis telekomunikasi tersebut mengawalinya dari mimpi. Termasuk hobinya mengkoleksi berbagai jenis kapal, motor besar hingga hobi yang baru ditekuninya 3 tahun belakangan, mobil klasik.

“Sewaktu kecil saya sering berandai-andai memiliki kapal sendiri. Malah, saya selalu menyisihkan uang jajan untuk membeli kapal klotok yang digerakkan oleh minyak dan kapas. Saat sekolah pun saya selalu berkhayal bisa dianter naik Mercedes-Benz seperti teman-teman saya yang beruntung. Kemudian saat beranjak remaja, saya sengaja memodifikasi sepeda motor saya bergaya ala Harley-Davidson,” kenang Sarjana Akuntansi lulusan Universitas Tarumanegara ini.

IMG_5393_resize

Racun Mercedes-Benz

Mimpi Hengky masih berlanjut saat hidupnya berkecukupan. Tiga tahun silam, salah satu sahabatnya kerap menyambanginya sambil membesut Mercedes-Benz 280S buatan tahun 1969. “Saya sempat berpikir, ini orang iseng banget. Mobil tua kok malah dipakai,” ujarnya. Setelah beberapa kali bolak-balik singgah di rumahnya, akhirnya orang tersebut menawarkan Hengky untuk membeli mobilnya dengan sistem pembayaran yang dicicil hingga 5 kali.  Tergiur dengan penawaran tersebut, bapak 4 anak ini sontak menebusnya. Pasalnya, “Dahulu sewaktu saya lahir, mobil tersebut sama sekali tidak bisa dimiliki oleh orang tua saya. Karena memang hanya orang-orang kaya saja yang bisa menikmati kenyamanan dan kecanggihan Mercedes-Benz.”

Kegandrungan Hengky terhadap mobil produksi manufaktur berlambang three-pointed stars tersebut semakin dalam setelah teman yang sama kembali datang merayu sembari membawa Mercy Barong 450 SEL tahun 1974. “Alasan saya membeli mobil tersebut memang tidak masuk di akal. Bukan karena saya suka dan hobi dengan Mercedes-Benz, tapi lantaran tahunnya sama dengan tahun lahir adik saya yang paling kecil,” kilah pria yang menghadirkan lapangan golf mini di ruangan kantornya itu. Tidak berhenti sampai di situ. Kedua mobil tersebut direstorasi total. Tidak sedikit dana yang dihabiskan Hengky untuk mengembalikan kedua mobil tersebut seperti kondisi saat keluar dari pabrik di masanya.

 IMG_5383_resize

Pelajaran Berharga

Kadung nyemplung di dunia yang sama sekali baru baginya ini, di perjalanan Hengky kembali menebus Mercy Mini 250E tahun 1970 dengan harga yang cukup jauh melambung di atas harga rata-rata. “Karena kurang mengerti tentang Mercy tua, berapapun harganya asalkan saya suka pasti saya beli. Kemudian saya ganti semua komponennya dengan yang baru tapi tetap orisinil. Belinya juga di Indonesia. Beberapa bengkel mobil klasik sempat menawarkan spare part tersebut dengan harga yang tidak rasional. Lagi-lagi tanpa berbekal pengetahuan dan literature yang mumpuni, terpaksa barang-barang dimaksud saya tebus. Total saya sudah menghabiskan dana hingga Rp. 200 juta untuk merestorasi mobil ini,” sesal penggiat jetski itu.

Kendati telah mengkoleksi 17 unit Mercedes-Benz klasik dari berbagai tipe dan tahun, baru tahun lalu matanya mulai terbuka. Setelah menghadiri Assen Classic Show di Swiss wawasannya pun makin bertambah. “Akhirnya saya sadar, bahwa apa yang saya lakukan itu salah. Membeli dari bengkel-bengkel yang ada di sini memang ada baiknya. Bisa langsung kita tebus kalau kita memang membutuhkan. Wajar saja jika mereka mematok bandrol yang sangat tinggi. Namun jika kita tahu tempat-tempat ang menjual komponen di negara asalnya, kenapa kita tidak langsung membeli di sana. Meski masuk dalam kategori concours saat me-restore, namun saya juga salah memilih mobil. Berapapun dana yang sudah saya habiskan untuk merestorasi, mobil tersebut tetap tidak valueable,” jelas Hengky. Memang, belajar itu mahal.