Tiga pemuda anggota tim football di sebuah perguruan tinggi tersinggung oleh ucapan Charlie Rogers di atas panggung. Apalagi sang musisi juga melantunkan tembang bertajuk Poison Ivy League yang isinya kurang lebih mengolok-olok ballers seperti mereka. Tak pelak perkelahian tiga lawan satu pun tak bisa dihindari.

Honda-CB77-c

Disiram temaramnya rembulan, tiba-tiba ada sosok misterius penuh aura magis muncul dengan raungan khas menghiasi adegan pembuka yang ada di film musikal bertajuk Rustabout itu. Ya, sosok sepeda motor bersilinder kembar dengan postur lebih kompak ketimbang motor produksi AS kebanyakan.


Honda-CB77-a

Sejak saat itu saya jatuh cinta pada motor pacuan Charlie, seorang musisi jalanan yang diperankan oleh The King of Rock n Roll, Elvis Presley. Sebuah sepeda motor yang hingga kini membuat saya selalu mengatakan ‘motor Elvis’ saat melihat motor tersebut di beragam ajang pameran motor klasik. Memang di film terbitan 1964 ini sang produser justru lebih memilih sebuah Honda CB77, dibanding Harley-Davidson yang notabene motor kebanggaan negeri Paman Sam. Alasannya adalah reputasi buruk yang ditunjukkan pemacu H-D kala itu serta ampuhnya iklan Honda yang mengatakan, “You meet Nicest People on a Honda.”

Honda-CB77-t

Well… Lahir di 1961, Honda membukukan standar baru di kelas menengah lewat Honda CB77. Mesin straight-twin 305cc yang diusungnya membuat motor berjuluk Superhawk ini menyandang predikat motor sport pertama yang diproduksi Honda. Bahkan menurut majalah Cycle World yang terbit di 1964, Honda CB77 digadang sebagai motor paling sempurna dan paling kencang ketimbang semua produk Honda yang hadir saat itu. Hmmm.. Inilah yang membuat saya makin tak tenang.


Honda-CB77-u

Untungnya rekan saya yang kondang sebagai penggila motor Honda bermesin twin menyimpan satu unit Honda CB77 di garasi rumahnya di bilangan Bintaro. Jika besutan Elvis Presley menggendong tas di sebelah kanan dan gitar di kiri, maka Superhawk milik Tommy Sunu menyandang nomor start 77 lantaran menganut konsep racing.


Honda-CB77-l

“Ini merupakan konsep orisinil motor balap milik pabrikan Honda saat itu. Termasuk yang digunakan oleh Om Tommy Manoch waktu memenangkan Grand Prix Indonesia 1963 kelas 250cc/350cc di Bandara Curug,” jelas Tommy.


Honda-CB77-e

Hmmm.. Orisinil? Bisa jadi. Pasalnya penggila café racer ini mengklaim bahwa hampir seluruh komponen yang diadaptasikannya di Honda CB77 miliknya merupakan parts orisinil, termasuk single seat ala balap. Sementara parts yang sudah dimodifikasinya antara lain handgrip, ban Firestone Deluxe Champion yang membalut velg DID, pengabut bahan bakar, spion dan mengubah sistem pengapian dari platina ke CDI.

Honda-CB77-b

Puas mengagumi tampilan, kini saatnya saya merasakan sensasi berkendara di atas Honda CB77 Super Hawk. Lesakkan anak kunci ke dalam lubangnya, dan putar lalu tendang ke depan tuas starter. Ya, ke depan. Tidak seperti sepeda motor kebanyakan yang harus menendang tuas starter ke belakang maka pada motor yang restorasinya dikerjakan oleh Ananda Putra Udjo, Mang Yadi Karyadi dan Protechnic ini tuas dimaksud harus ditendang ke depan melintasi tuas rem belakang untuk menghidupkan mesin. Unik kan? Sejatinya sih motor ini sudah dilengkapi dengan electric starter. Namun sayang sudah tidak berfungsi..


Honda-CB77-q

Sejurus setelah kickstart ditendang, gema mesin twin SOHC-nya sontak mengaum lewat selongsong kembar di buritan. Tarik tuas kopling, injak batang perseneling untuk masuk ke gigi satu dan lepas perlahan. Pada perseneling satu dan dua dalam rpm rendah, getaran mesin terasa menyebalkan. Namun semua sirna saat pindah ke gigi tiga dan empat. Mesin yang diklaim bertenaga 28 hp pada 7500 rpm dengan torsi 23,1 Nm pada 6000 rpm ini terasa powerful dan sangat mengasyikkan.


Honda-CB77-p

Bahkan di masanya, Honda CB77 Superhawk mendapatkan julukan ‘giant slayer’. Lantaran performanya sanggup menaklukkan motor-motor berkapasitas 500cc. Majalah Motorcyclist Illustrated terbitan Oktober 1965 menulis, “akselerasi Honda CB77 dari kondisi diam mirip dengan motor berkapasitas 500cc kebanyakan. Dan jika Anda mencoba untuk memaksa mesin bekerja hingga putaran maksimum sebelum memindahkan gigi, Anda harus menggenggam erat handle bar kalau tidak mau posisi duduk bergeser ke belakang.” Wah, untung saja si Blue Racer sudah mengadopsi single seat original Honda. Jadi aman…


Honda-CB77-n

Lupakan saja empuknya sistem suspensi saat melahap jalan bergelombang dan sesekali menghajar lubang biadab di tengah jalan. Namanya juga motor tua. Yang penting masih bisa mengakomodir adrenalin saat menikung dalam kecepatan lumayan tinggi. Oh ya, untuk suspensi oil-damped coil spring di belakang juga bisa diatur dalam 3 settingan untuk menyesuaikan dengan beban yang diangkut. Bagaimana dengan sistem pengereman? Ah, rasanya rem tromol alumunium berdiameter 9 inci masih sanggup menghentikan laju Superhawk tanpa harus deg-degan menyambut bumper mobil di depan.


Honda-CB77-j

Posisi duduk yang nyaman di atas jok berlapis kulit dengan beragam tombol ergonomis yang terpasang di handle bar membuat sesi riding saat itu sangat menghanyutkan. Meliuk di antara belantara mobil di selatan Jakarta sambil sesekali memelintir throttle saat tiba di kawasan Bintaro membuat saya berkhayal menjadi raja Rock n Roll. Tentunya sembari bersenandung riang menyambut tenggelamnya sang mentari.

Honda-CB77-d

 

I’ll go the way I want
Driftin’ just like the sand
Doin’ what job I can
Changing my plans as I choose
Long as I keep happy I can’t lose
Till I find my place there’s no doubt

I’ll be a rovin’ roustabout
I’ll be a rovin’ roustabout…I’ll be a rovin’ roustabout
I’ll be a rovin’ roustabout..rovin’, rovin’ roustabout….