4. Peugeot 205 T16

Lepas memproduksi 200 unit 205 Turbo 16 versi jalan raya agar sesuai dengan Homologasi FIA, Peugeot menggandeng Peugeot Talbot Sport mulai mengembangkan mobil relinya dengan mengadopsi platform 205 versi 2 pintu. Proyek dengan kode “M24-Rally” ini dimulai di akhir 1981 di markas Talbot di Coventry, Inggris dengan target memasang paket mesin hi-perf plus sistem penggerak empat roda ke dalam body 205. Lewat Juga Kankkunen dan Timo Salonen, Peugeot 205 T16 merebut gelar juara dunia pabrikan dan pereli di ajang WRC 1985 dan 1986 dengan total raihan kemenangan sebanyak 16 kali.

5. Audi Quattro

Inovasi Audi dengan menghadirkan Quattro alias sistem penggerak 4 roda sontak mengguncang dunia reli yang di awal 80-an didominasi oleh mobil-mobil berpenggerak roda belakang seperti Ford Escort, Fiat 131 Abarth dan Lancia Stratos. Bahkan Hannu Mikkola yang besar bersama Ford sempat tercengang saat menjajal mobil ini. Performa Quattro dibuktikan saat dites menjadi zero car di Reli Algarve (1980). Catatan waktunya lebih cepat di 24 tahapan dari 30 tahapan yang dilombakan ketimbang mobil reli betulan. Setelah pasang surut di WRC seri 1981, baru di 1982 Audi Quattro mampu memenangkan 9 seri WRC dan menggondol gelar juara dunia. Setahun kemudian Mikkola menjadi juara dunia bersama Audi.

6. Fiat 131 Abarth

Tangan dingin Fiat, Abarth dan Bertone menghasilkan 400 unit Fiat 131 Abarth sebagai syarat homologasi dari FIA agar bisa berpartisipasi di ajang World Rally Championship. Mendebut di Group 4 WRC pada 1976, mobil yang dipacu Markku Alen asal Finlandia berhasil meraih satu kemenangan. Dan baru pada seri WRC berikutnya, Fiat mampu menjadi juara dunia WRC setelah merebut gelar terbaik di 5 seri-Portugal (Markku Alen), Australia (Fulvio Baccheli), Kanada (Timo Salonen), San Remo (Jean-Claude Andruet) dan Corsica (Bernard Darniche). Selama lima tahun berjibaku di ajang WRC, Fiat 131 Abarth sukses mendulang 20 kali kemenangan dan mengantarkan Markku Alen merebut 7 kemenangan.

1 2 3