KIA Grand Sedona menggunakan mesin 2.2 CRDi Turbocharger Commonrail untuk varian diesel yang baru saja diluncurkan., Rabu (18/7). Menurut PT KIA Mobil Indonesia, sumber tenaga berbahan bakar solar tersebut punya standar emisi Euro II untuk pasar Indonesia.

Di Indonesia sendiri, bahan bakar solar tersedia dengan berbagai pilihan kualitas. Mulai dari kualitas terendah dengan angka Cetane (CN) 48, kualitas menengah CN 51 dan yang tertinggi CN 53. Angka Cetane ini merupakan satuan daya ledak bahan bakar diesel yang berujung pada kualitas pembakaran.

Sementara, KIA Grand Sedona dengan standar emisi Euro II, dimana secara umum, untuk mesin dengan tingkat emisi tersebut menggunakan bahan bakar diesel dengan CN 54 dan kadar sulfur dibawah 300 ppm.

Menanggapi hal tersebut,  General Manager Business Development PT Kia Mobil Indonesia (KMI) Harry Yanto menyarankan untuk tetap menggunakan kualitas (solar) yang terbaik. “Kita merekomendasikan menggunakan bahan bakar diesel sekelas CN 53 di Indonesia. Pakai di bawah itu bisa saja, tetapi pasti ada konsekuensi, seperti performa hingga kualitas oli menurun,” jelas Harry.

Menurutnya studi yang dilakukan KMI, lanjut Harry sekitar enam bulan. Selama itu digunakan untuk melihat perkembangan solar, sekaligus permintaan konsumen disegmen mesin diesel. “Sampai akhirnya kita berani meluncurkan, karena kami anggap dengan keadaan solar sekarang ini di Indonesia, tidak ada masalah,” tambah Harry.

Dalam hal ini, di Indonesia ada tiga penjual ritel bahan bakar diesel dengan CN 53 di Indonesia. Seperti Pertamina dengan Pertamina Dex, Shell dengan Shell Diesel Bio dan Total dengan Total Performance Diesel.

Semua kembali ke konsumen, apakah rela merogoh kocek sedikit lebih dalam demi performa dan durabilitas mesin atau tega merogoh kocek sedikit atas nama penghematan.

“Lagi-lagi kita tetap merekomendasikan menggunakan kualitas yang terbaik,” tegas Harry.