Vino Maserati

Perkenalkan sahabat baru saya, Irvino Edwardly, seorang Business Development Head MRA Group, Jakarta. Pada kesempatan kali ini, ia mengajak saya untuk menikmati hidup ala-ala kaum expatriat ibu kota. Sportscar, bar, wine and business. Dan akhirnya perbincangan kami-pun dimulai dari sini.

Bagaimana asal mula Anda bisa enjoy berkarir di dunia Bisnis?

Awal mulanya karena jurusan kuliah. Karena waktu itu aku mendapat bea siswa untuk kuliah di Athens university of Georgia, dengan double major, international business dan finance. Beberapa tahun kemudian, akhirnya aku kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan financial consultan, yang sesuai dengan pendidikanku. Perusahaan Pegassus international, financial consultan company. Tapi kerjaan itu cuma lima bulan aku jalanin, karena aku merasa kerjaan ini bukan hidupku. Jiwaku tuh sudah marketing banget. Jadi, kerja ngitung-ngitung  gitu malah pusing.

Vino Maserati

Lalu, bagaimana ceritanya Anda bisa ‘berkarya’ di Maserati?

Nah, kebetulan ada tawaran kerja dari klien, orang Harley Davidson. Akhirnya selama delapan tahun aku meniti karir di Mabua Harley Davidson Indonesia, dari yang cuma Manager hingga aku dipercaya menjadi GM ( General Manager). Hingga suatu saat aku diminta untuk coba menjalankan brand mobil Maserati.

Selama delapan tahun Anda ‘hidup’ di Maserati, apa sih kesulitan yang pernah Anda hadapi selama ‘jualan’ produk sport car daily ini?

Image Maserati ini sebagai second class-nya Ferrari, atau ‘kalangan’ poorman Ferrari sebenarnya memperlemah pasar. Mengubah mindset orang atau konsumen kami terhadap produk yang sebenarnya berkelas ini cukup sulit. Padahal sudah14 tahun lho, produk yang di ‘judge’ sebagai cheaper Ferrari ini sudah mengaspal di Indonesia. Tapi tetap saja doktrin itu tidak bisa dihapus dari otak mereka.

Vino Maserati

Wah… Ternyata selama ini, ‘stigma’ Maserati sebagai cheaper Ferrari itu salah dong? Lalu siapa sih sebenarnya Maserati itu? Dan dimana sebenarnya permainan pasar mereka?

Ya. Jelas berbeda. Ferrari is a race car, Maseraty is luxury sport car. See it?. Jadi Maserati itu kendaraan buat daily use. Berbeda market dan bukan kompetitor. Memang benar, perbedaannya satu lebih mahal, satu lebih murah. Tapi masa kita dianggap second class sih? Jelas tidaklah. Karna pasar kita kan jelas berbeda.

Jadi, apa yang sudah Anda dan tim lakukan untuk menghilangkan nama Ferrari di Maserati?

Selama dua tahun ini sudah kita coba merubah doktrin itu, tapi memang sulit mengubah kebiasaan ini. Semua sudah kami lakukan. Dengan cara memisahan diri dari Ferrari, dengan cara kegiatannya yang selalu berkonsep family, bring your wife and bring your kids, sosialiasasi bahwa sportcar ini bisa mengangkut saudara dan temen, pokoknya banyak deh yang sudah kita lakukan. Dan kita juga sudah menekankan ke konsumen kalau tenaga Maserati itu sebenarnya sama dengan Ferrari dan sama juga dibuat di Maranello.

Vino Maserati

Lalu, apa sih yang membuat Anda mau mempertahankan bisnis kendaraan premium ini dan terus gempur pasar mereka di Indonesia?

Kita jangan membuat Negara ini seperti negara miskin. Jangan memberikan limit ke konsumen untuk membeli mobil mewah. Kalau masih dibatasi mending mereka beli Ferrari di sana. Padahal hal-hal ini bisa mengangkat perekonomian kita. Investor liat di Negara kita, kalau liat banyak Feruntu, pasti mereka suka. Seperti gold mine tanah air kita. Nggak terus-terusan dianggap kumuh dan nggak punya uang. Nah sekarang, Ferrari dan Harley Davidson sudah berterbaran dimana-mana’kan?. Sesuai aja lah. Yang jelas, harapan saya sih, Indonesia bisa lebih luwes untuk industi otomotif-nya, sehingga bisa digunakan sebagai barometer kemakmuran sebuah Negara, terutama untuk kendaraan luxury-nya. Itu saja kok.

Vino Maserati

Setelah sudah merasakan bahwa policy di Indonesia sedikit ribet, dan banyak hal yang ternyata harus Anda ‘pertaruhkan’ untuk sebuah nama Maserati, pernahkah Anda merasa ‘lelah’, dan berpikir untuk stop dan keluar dari bisnis otomotif ini?

Ya, setiap orang pasti pernah merasa lelah. Tapi dalam menjalankan hidup motonya adalah kita harus percaya diri sendiri bahwa kita bisa menjalani itu dan kita harus bisa focus dan jangan mudah menyerah. Karena di mata saya sesuatu itu gak akan datang dengan sendirinya, jadi harus kita raih atau kalau perlu kita renggut. Usaha dan pengorbanan.

Segelas red wine-pun akhirnya menutup obrolan kami ini. Dan ia berjanji akan mengajak saya dan keluarga untuk berwisata keliling Jakarta menunggangi daily sport car, Maserati, di weekend nanti.