IMG_9972

Isu kenaikan harga bahan bakar minyak memang sedang merebak di Indonesia. Dan rencananya, pemerintah bakal mengeluarkan kebijakan tersebut dalam dua atau tiga bulan kedepan. Tapi apakah isu ini juga berdampak pada bisnis otomotif di tanah air? Pasti.

“Ya, keadaan ini pastinya akan berdampak ke market mobil.  Tapi kami belum bisa berkomentar, karena kami sendiri belum tahu pemerintah akan memberikan kebijakan dan harga kenaikan berapa dan seperti apa. Namun, berapapun nilai kenaikannya, kami akan tetap mendukung kebijakan pemerintah. Selama supply bahan bakar masih tersedia,” ujar Suparno Djasmin, Vice President PT Toyota Astra Motor, saat peresmian Eco Gallery di SMA 34, Jakarta, hari ini (28/08).

Suparno Djasmin juga melihat, bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak akan membuka masalah baru ke masyarakat. Apalagi jika pemerintah lebih setuju mengeluarkan ‘fatwa’ pembatasan pemakaian BBM di tanah air.

“ Jika pemerintah jadi menaikan harga BBM, dampaknya mungkin tiga sampai enam bulan setelah keputusan tersebut, masyarakat akan shock. Dan mereka tentunya butuh penyesuaian dan perhitungan ulang untuk kehidupan sehari-hari. Karena kita juga tahu, pasar kendaraan di Indonesia kebanyakan adalah kaum middle low. Butuh mobil untuk mobilitas dan usaha. Bukan untuk life style semata. Jadi, jika ada pembatasan BBM kami menakutkan banyak aktifitas masyarakat tersebut jadi terganggu, dan mungkin akan membuat masalah baru dalam bidang ekonomi,” tambahnya.

Kendati kebijakan tersebut nantinya teralisasi, namun PT TAM tetap optimis target market mereka sebanyak 34% akan tercapai.

“ Kami tak akan merubah target market kita. Karena biasanya, kenaikan harga BBM seperti ini, masyarakat akan shifting ke mobil-mobil yang lebih efesien, kecil, dan kompak. Dan Toyota memang lebih banyak menjual mobil yang irit, dan kompak, seperti halnya Avanza,” tutupnya.