Just a little deuce coupe with a flat head mill
But she’ll walk a Thunderbird like (she’s) it’s standin’ still
She’s ported and relieved and she’s stroked and bored.
She’ll do a hundred and forty with the top end floored
She’s my little deuce coupe
You don’t know what I got

Jendela-Bali-2

Menikmati pesona alam Pulau Dewata sembari diterpa angin sore saat melaju di atas Ford 1932 memang sanggup melipur semua penat dan lara. Ya, seperti yang digambarkan oleh The Beach Boys lewat tembang bertajuk Little Deuce Coupe tadi. Mesin flat head yang telah diporting serta upgrade pada stroke dan bore membuat sang Deuce alias Ford ’32 sanggup melaju hingga 140 mil/jam melintasi aspal halus tepi pantai.

Jendela-Bali-2

Hmmm.. Sayangnya itu hanya hayalan belaka. Lantaran saya tidak sedang berada di atas Deuce, melainkan bercengkerama bersama Chevrolet Bel Air Stationwagon produksi 1956 menuju Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, tempat digelarnya perayaan ulang tahun Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia ke 36.

Jendela-Bali-2

But wait! Ada satu spot yang membuat saya menoleh sebelum tiba di lokasi. Untungnya rem tromol bawaan masih cukup mumpuni untuk menghentikan tubuh bongsor si Bel Air. “Ah, sepertinya kita bisa menunggu member lainnya di tempat ini sebelum line up untuk berfoto bersama,” ujar rekan saya yang kebagian tugas menjadi ‘navigator’. Ajakan tersebut sengaja tidak saya tampik lantaran perut juga sudah minta diisi.

Jendela-Bali-2

Tidak salah memang Jendela Bali mengklaim dirinya sebagai The Panoramic Restaurant. Pasalnya, resto ini berdiri 300 meter di atas permukaan laut. Jadi, sambil menikmati beragam sajian khas yang menggugah selera, pengunjung juga dihibur oleh semburat jingga saat mentari tenggelam di Pantai Jimbaran. Dan saat malam tiba, indahnya gemerlap lampu di sekitar Jimbaran, Kuta, hingga Tanjung Benoa menjadi teman setia.

Jendela-Bali-2

Cukup rasanya saya bertutur soal nuansa resto yang beroperasi mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam setiap harinya. Sekarang saatnya memanjakan indra perasa. Setelah bertanya kepada pelayan yang ramah, akhirnya saya mendapatkan bocoran menu-menu makanan yang menjadi favorit para tamu semisal Bebek Goreng Crispy dan Iga Sapi Bakar Bukit. Sementara untuk Anda yang tidak ingin mengecap kenikmatan rasa otentik hidangan khas Bali, bisa memesan beberapa menu Western dan Eastern yang juga tersedia di sini.

Jendela-Bali-2

Kalau lidah saya sih memang sudah terbiasa dengan beragam hidangan bumi pertiwi. Jadi, mengecap gurihnya daging bebek yang renyah sembari dicocol sambel goreng dan rebusan daun kangkung justru jauh lebih nikmat dan berkeringat. Kurang puas (atau lebih tepatnya kurang kenyang), saya segera beralih ke menu berikutnya, Iga Sapi Bakar Bukit.

Jendela-Bali-2

Dua potong iga sapi berukuran cukup besar rasanya sanggup mengganjal perut sebelah dalam. Apalagi ditambah dengan seporsi nasi pulen yang terbungkus rapat di dalam daun pisang. Usah bertanya soal rasa. Pol! Potongan daging yang sepertinya direbus dengan beragam bumbu terlebih dahulu sebelum dibakar langsung lumer di mulut, empuk. Balutan bumbu berhias cabai menambah lengkap cita rasa. Ini baru puas.

Jendela-Bali-7

“Koki kami siap menyajikan satu set menu terbaik, baik itu untuk santap siang ataupun makan malam, dengan teman spesial ataupun rombongan. Tempat ini juga bisa dipesan untuk menggelar acara pribadi atau pertemuan perusahaan. Singkatnya, kami bisa memenuhi semua kebutuhan Anda. Datang dan nikmati sajian istimewa kami. Lengkapi kunjungan Anda ke GWK dengani mencicipi masakan khas Bali yang lezat di Restoran Jendela Bali,” tutup Humas Jendela Bali.