Bila Audrey Hepburn dan Gregory Peck bisa melihat Roma di masa sekarang, mereka pasti akan terkejut dan merasa heran. Skuter 125cc yang mereka pakai untuk properti film dan sangat populer di Roma kala itu sudah tidak seramai dulu. Jalanan Roma tidak lagi didominasi dengungan bising khas Vespa dan juga merek-merek skuter Italia lainnya.

Sebuah data hasil survei yang dikeluarkan ANCMA, the National Association of Motorcycle, Bicycle and Accessories, menyatakan bila tingkat kepopuleran skuter di Italia sudah berkurang drastis. Hal tersebut dapat dilihat dari merosotnya penjualan Vespa semenjak masa kejayaaanya.

Jikalau dulu di tahun – tahunnya Roman Holiday sebuah Vespa bisa jadi primadona dan menjadi senjata untuk menaklukan wanita, jangan heran bila dalam setahun 600,000 unit bokong cantik itu bisa terjual. Kini seperempatnya saja tidak bisa tercapai, melongok hanya 26,727 unit saja yang terjual di 2014.
Claudio Deviti, head of motorcycle unit ANCMA, menyatakan bila revolusi kultural adalah poin utama dalam penurunan penjualan skuter di Italia. Salah satu contoh nyatanya adalah smartphone.

Seperti yang telah disebutkan di atas, 10 tahun yang lalu setidaknya, memiliki sebuah skuter sudah dapat dipakai sebagai sebuah senjata untuk bergaul dan meningkatkan derajat sosial di mata teman-teman. Hari ini, peran tersebut digantikan oleh media sosial dan akses yang konstan terhadap dunia maya dimana memiliki sebuah smartphone jelas lebih penting daripada memiliki sebuah skuter.

Meski begitu pernyataan tersebut tidak sepenuhnya diamini oleh para pengguna skuter. Pietro Falda, pelajar berusia 18 tahun berujar bila dia masih ingin mempunyai satu.

“Setidaknya ini bukan sepenuhnya tentang masalah iPhone. Hanya saja orang tuaku berpikir terlalu berbahaya untuk berkendara di kota. Bila aku dapat memutuskan sendiri, aku akan mengendarainya sepanjang waktu,” bebernya.

Tidak peduli tentang tingkat kepopuleran di suatu masa, akan selalu ada fans hardcore seperti Falda untuk skuter khas Italia.