Berada di kantor seharian untuk mengerjakan sebuah proyek bisa menjadi bumerang bagi insan yang menekuni industri kreatif. Alih-alih menepati tenggat, lingkungan kantor yang statis malah sering membunuh gagasan-gagasan yang seharusnya lancar tertuang. Berbekal komputer jinjing dan segala materi, kami sering mencari-cari lokasi yang bisa menjadi ekosistem subur untuk menumbuhkan buah pikiran.

IMG_0199-1

Menyusuri Jl. Senopati, Jakarta Selatan, kami tertarik dengan kedai kopi yang melabelkan dirinya Kanawa Coffee and Munch. Sayangnya, begitu menghentikan Vespa S yang menjadi tunggangan di depan kedai tersebut, tak banyak celah untuk mengetahui rupa bagian dalamnya.

IMG_0143-1

Mobil-mobil di lahan parkir menghalangi pandangan. Tapi hal ini justru membuat kami makin penasaran. Kami putuskan melangkah masuk, melalui pintu kaca lebar yang membawa kami langsung menuju hadapan bar.

IMG_0211-1

Adalah Faruq Al Ghazali, co-founder sekaligus penanggung jawab urusan marketing Kanawa Coffee and Munch yang menemui kami pada kunjungan perdana tersebut. Dengan fasih dirinya menceritakan serba-serbi kedai yang didirikan bersama kelima rekannnya itu sejak lima bulan lalu.

IMG_0149-1

Label “Kanawa” diambilnya dari nama sebuah pulau yang indah dan menenangkan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Pemilihan nama tersebut ada benarnya. Dengan tipikal dekorasi yang sederhana khas kedai-kedai masa kini, Kanawa Coffee and Munch tak ubahnya working space bagi para profesional.

IMG_0252-1

“Orang datang ke coffee shop itu untuk melakukan hal-hal yang produktif. Mereka kerja, meetingbrainstorming di coffee shop,” jelas Faruq mengenai hasil pengamatanya selama ini. Berangkat dari situ, Kanawa Coffee and Munch dikonsepkan sebagai tempat yang mampu merangsang produktifitas serta kreatifitas, khususnya bagi para self-employment.

IMG_0161-1

Hal itu pula yang menjadi alasan kehadiran kendaraan-kendaraan ikonis di dalam kedai. Sebut saja Rover Mini ’97 dengan kondisi mulus berwarna putih yang bercokol di bawah tangga. Faruq dkk percaya bahwa kehadiran mobil tersebut beserta koleksi-koleksi lainnya, seperti Vespa GTV yang ditugasi “mengawal” lantai bawah bisa menciptakan atmosfir yang kreatif.

IMG_0166-1

Secara keseluruhan, tempat dengan daya tampung sekitar seratus dua puluh pengunjung ini memiliki dua lantai. Para insan kreatif muda yang memiliki agenda rapat besar bisa memanfaatkan ruang pertemuan yang berada di lantai atas.

IMG_0256-1

“Rencananya di atas bakal saya taruh sepeda-sepeda Brompton,” kata Lucky Heriyanto, kolektor mobil antik yang juga berada di balik pendirian Kanawa Coffee and Munch. Rencana tersebut hanya bagian kecil dari caranya untuk mengentalkan unsur otomotif. “Ada satu mobil lagi yang ingin saya bawa ke sini, yaitu BMW Seri-2,” imbuh Lucky.

IMG_0243-1

Obrolan dengan pria yang sangat menggilai mobil antik ini pun makin lengkap dengan suguhan cappucino panas yang dibuat menggunakan Kanawa blend. Racikan khas kedai tersebut, kombinasi Java Pasundan dan Kerinci yang punya aftertaste sedikit pedas.

IMG_0229-1

Energi untuk menyelesaikan sederet tugas kantor pun terisi penuh seusai menyantap salah satu menu egg based yang dikedepankan Kanawa Coffee and Munch, yakni Rise and Shine : beef bacon, telur, sosis, salad Romain Lettuce, tomat, serta jamur yang dihidangkan di atas roti ciabatta. Sedangkan untuk penutup, kami dipilihkan Banofee yang berisikan pisang, karamel, whipped cream, juga biskuit yang tampil menggoda dengan taburan cokelat di atasnya.