Guna menunjang transportasi dari satu tempat ke tempat lain tentunya motor menjadi andalan beberapa keluarga menengah kebawah. Masih terbilang aman jika Anda sebagai orang tua mengajarkan cara yang baik dan benar dalam berkendara.

Tidak jarang sejak kecil anak sudah di ajang berkeliling dengan menggunakan motor tanpa diberikan edukasi yang baik. Mulai dari penggunaan helm hingga posisi anak sewaktu membonceng.

Tentunya hal ini sangat membahayakan si kecil. Terlebih nantinya mereka juga akan berkendara menggunakan motor di usia yang sudah cukup.

Community Development & Safety Riding Supervisor Astra Motor Yogyakarta Muhammad Ali Iqbal berbagi tips cara aman berkendara bersama sang buah hati di jalan raya.

1. Gunakan perlengkan berkendara yang aman dan lengkap. Seperti helm, jaket, sepatu, dan celana panjang wajib dikenakan. Hal ini dikarenakan potensi resiko kecelakaan antara si pengendara dan pembonceng yang sama besar. Selain itu penggunaan perlengkapan yang lengkap dapat mengurangi resiko benturan saat terjadinya kecelakaan.

2. Saat membonceng anak posisikan mereka di belakang pengendara. Yang sering terjadi anak membonceng di depan atau menggunakan kursi bantu agar anak dapat duduk di depan.

Resiko yang menunggu diantaranya anak akan terkena terpaan angin, dan yang paling berbahaya pada saat pengendara melakukan pengereman mendadak maka pengendara akan lebih fokus pada kemudi sepeda motor dari pada ke anak tersebut. Sehingga anak akan berada di posisi yang beresiko terlempar dari sepeda motor.

Sebaiknya anak dibonceng di tengah bersama kedua orang tuanya namun apabila berkendara sendiri, anak tetap berada di posisi belakang dengan bantuan menggunakan seatbelt khusus sepeda motor.
3. Jangan mengajarkan dan membiarkan anak berkendara saat belum cukup umur.
Kebanggaan anak bisa berkendara sepeda motor sebelum cukup umur justru akan membahayakan anak saat berkendara di jalan raya.

Karena anak belum mampu membaca situasai dan kondisi bahaya yang ada di jalan raya. Tentunya hal ini akan membahayakan pengendara lain. Selain itu secara psikologis kondisi anak di bawah umur masih cenderung belum stabil.