Ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Sprint Rally 2018 putaran 4 bertajuk “King of Kings Sprint Rally” yang digelar di Sirkuit PMPP, Sentul, Jawa Barat pada 15 dan 16 September akhir pekan kemarin menunjukkan hasil yang kompetitif antar para peserta.

Pereli nasional Rizal Sungkar, berhasil keluar sebagai juara satu di kategori kejuaraan umum. Rizal bersama navigator Edwin Nasution, sukses mencatatkan waktu total 17 menit 50,9 detik setelah melalui lima special stages (SS), mengikuti di posisi kedua TB Adhi bersama navigatornya M. Zaki dengan total catatan waktu 18 menit 26,5 detik

Sementara itu Rifat Sungkar bersama navigatornya M Redwan berada di tempat ketiga dengan total catatan waktu 18 menit 43,3 detik.

Rifat yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Rally Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat, memberikan komentarnya terkait ajang “King of Kings Sprint Rally” di Sentul ini.

“Peserta tercatat ada sebanyak 64 orang dan ini adalah angka yang baik. Hasil perlombaan di kelas kejuaraan umum menarik, karena Tb Adhi yang bertanding di kelas J2, bisa berada di posisi kedua tepat di bawah Rizal yang di kelas M1. Sementara saya yang di kelas F3 bisa berada di tempat ketiga,” ungkap Rifat.

Hal ini dapat terjadi karena di lintasan aspal, mobil dengan power besar akan sangat diuntungkan karena dengan kombinasi ban aspal yang memang punya tingkat kelekatan sangat tinggi, akan membuat power mobil 100 persen dapat didistribusikan dengan baik. Berbeda dengan permukaan gravel, di mana ban masih akan ada kecenderungan untuk spin jika power mobil terlalu besar.

Dari hasil kejuaraan “King of Kings Sprint Rally”, Rifat juga sekaligus ingin memotivasi para pereli muda lainnya untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah, karena semua tetap dapat bersaing asal ada konsistensi.

“Mobil saya relatif kecil dengan tenaga 150-an tenaga kuda, jadi saya harus ekstra berusaha. Namun di atas itu semua, saya ingin memperlihatkan dan membuka mata bahwa para pemilik kendaraan berpenggerak roda depan tidak perlu berkecil hati karena dengan kendaraan 1.600 cc saja, apabila kita terus berlatih dan terus memaksimalkan kemampuan yang kita miliki, kita tetap bisa bersaing dengan mereka yang berada di kelas yang menggunakan mobil dengan tenaga lebih besar seperti M dan J2.”

Dengan kata lain, Rifat menilai bahwa paradigma kendaraan balap harus diinvestasikan dengan mesin sebesar mungkin dan semahal mungkin tak selamanya benar. Ia menambahkan, “Tidak selalu anggapannya harus seperti itu, karena banyak hal lain di luar mesin yang bisa mendukung prestasi kita menjadi lebih baik, contohnya seperti suspensi dan juga gearbox.”

Sementara itu, Ketua Komisi Sprint Rally IMI Pusat, Hervian Soejono, juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) Tentara Nasional Indonesia (TNI) atas dukungannya terhadap kancah olahraga otomotif secara khusus rally dan sprint rally.

“Ini adalah kerja sama yang sangat baik dengan pihak PMPP yang mau mendukung olahraga otomotif di Indonesia, karena tempat ini memiliki potensi untuk menggelar ajang internasional,” tutur Hervian.