IMG_6624_resize

Nama Kemal ‘Wrangler’ cukup disegani di ranah balap off-road. Lewat jip-jip racikannya, banyak orang berhasil meraih penghargaan terbaik baik di ajang speed off-road maupun adventure off-road. Walau akhirnya menyerah (DO) setelah 7 tahun kuliah teknik mesin, namun kemampuan pria bernama lengkap Kemal Agusmula Bachrie  ini dalam hal meningkatkan performa mesin, suspensi, sistem komputer mesin, dan rancang bangun pacuan off-road tak perlu diragukan lagi. Simak perbincangan kami dengan pria ramah ini di sela kesibukannya sebagai punggawa gerai Khatulistiwa Surya Nusa.

Kami percaya betul bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Apakah hobi otomotif Anda tertular dari keluarga?

Ya, Ayah saya (Alm. Toto Bachrie) dulunya memang bergelut di dunia otomotif. Saat itu dia bekerja dengan ‘raja mobil’ pada jamannya yaitu Alm. Hasjim Ning. Ayah saya terakhir menjabat di Djakarta Motor Company yang notabene adalah pemasok brand Chrysler dan Jeep. Saat ini pun kebetulan tempat saya bekerja ini juga sebagai bengkel resmi merek Chrysler-Jeep. tapi bila saya ingat-ingat lagi, ayah saya tak pernah menyarankan agar anak-anaknya bermain di ranah otomotif.

IMG_6633_resize

Lalu apa latar belakang pendidikan Anda hingga bisa menjadi pakar mesin saat ini?

Ha..Haa.. Haaa.. Sekolah saya yang benar-benar serius cuma sampai SMA. Sempat kuliah di STTN (kini ISTN) mulai 1980 sampai akhirnya nyerah di tahun 1987. Jadi sebenarnya utak-atik mesin cuma karena hobi dari kecil. Dulu kalau diajak ke Singapura, saya bela -belain nggak jajan hanya untuk beli buku tentang mesin, modifikasi mesin, dan sebagainya.

Mobil apa yang pertama menjadi kelinci percobaan?

Karena sering nggak puas dengan hasil perbaikan montir bengkel, akhirnya saya utak-ngatik Fiat 132 tahun ’81 untuk pertama kalinya. Lanjut Fiat 131 dan 127. Kenapa Fiat? Maklum aja dulu ayah saya sempat bekerja di Fiat. Nah, sudah bosan main Fiat, baru mulai bergeser main Jip.

IMG_6635_resize

Oh ya, kami ingat betul. Dulu Anda sempat mashyur saat face-off CJ7 jadi Wrangler (YJ). Bisa diceritakan?

Ha..ha.. Itu ceritanya dimulai sekitar 1987. Tahun segitu kan Wrangler YJ sudah mulai diproduksi, namun importir yang bisa memasukan YJ ke Indonesia sangat terbatas. Nah yang dipikirkan saat itu, sepertinya CJ juga bisa dirombak jadi Wrangler. Karena penasaran, saya bersama Toka dan Kurniawan dari Alpine Motor langsung terbang ke Amerika Serikat. Nah, pas di Pasadena, California, kami langsung intip-intip ke showroom Jeep. Kita pasang strategi. Toka dan Kurniawan bertugas untuk ngobrol di dalam showroom, sementara saya di luar ngukur-ngukur bodi YJ berbekal penggaris dan tali meteran Ha.. Haa.. Haa…

Lalu bagaimana kelanjutannya?

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa set body part YJ. Pertama kali tuh kita yang sukses mengawinkan CJ menjadi Wrangler. Padahal antara CJ dengan YJ sasisnya aja udah beda. Tapi senangnya orang-orang jadi bingung, biasa lampu bulat kok yang ini malah kotak? Ditambah bentuk fender yang beda. Saat itu kita juga sudah ngerombak posisi setir dari kiri ke kanan. Nah setelah sukses bikin masternya, kita repro dengan bodi fiber cetakan. Sampai akhirnya saat buka bengkel di daerah Bintaro itulah, nama julukan Kemal ‘Wrangler’ jadi populer.

IMG_6641_resize

Sebenarnya apa spesialisasi Anda di dunia perbengkelan?

Setting mesin. Pokoknya fokus ke mesin deh. Seperti bikin cam, kepala silinder, piston. Jaman dulu kalau punya jip kencang harus bisa ngakali piston Chevy. Nah kalau sudah ketemu setelan yang pas dijamin bisa jadi raja jalanan. Tapi itu dulu. Sekarang sudah merambah ke ECU, piggyback, Haltech, dan dyno.

Pernah ikutan balap?

Awal-awal sih pernah sempat ikut reli, sekitar tahun 1978. Seperti reli Pemuda Pancasila dan sebagainya. Tiap ikutan saya selalu finish, tapi beda catatan waktunya dengan pereli yang juara satu bisa dua atau tiga jam. Haa.. Haa.. Haaa…

IMG_6628_resize

Prestasi di balap?

Prestasi terakhir cuma ranking 2 nasional wktu Sprint Rally BSD tahun 1991. Nggak terlalu banyak sih, kebanyakan jadi montir. Percuma juga jadi pereli, nggak ada yang dukung. Banyak temen yang bilang kalau, “lo jangan ikutan (reli) deh, kalau tetap mau, mending jadi navigator aja. Sebab nanti kalau ada mobil yang rusak, lo nggak bisa benerin mobilnya.”
Punya rasa kangen turun balap lagi?

Kadang-kadang kepingin juga ikut kalau ada reunian pebalap lama. Jadi ingatdulu sempat dapat julukan pebalap spesialis terbalik gara-gara pernah terbalik tiga kali berturut-turut.

Harapan Anda kedepan?

Maunya sih dunia balap normal lagi seperti dulu, bengkel kan bakal ramai lagi Ha..Haa.. Ekonomi memang belum sehat, tapi kalau sudah mulai sehat saya yakin balap akan jauh lebih ramai lagi.