Konfirmasi Apple tentang keseriusannya terjun di dunia kendaraan memang belum dikeluarkan. Namun di mana ada asap di situ ada api. Setidaknya, hampir semua media besar di luar negeri telah menyatakan hal tersebut dalam pemberitaannya. Bahkan mantan CEO General Motors, Dan Akerson pun turut angkat bicara dalam isu panas ini.

Dan itulah yang jadi dasar kita dalam menyatakan pandangan kita terhadap Apple. Akerson berujar bila perusahaan asal California tersebut tdak perlu untuk terjun dalam ranah kendaraan. “Stick to electronics,” itulah garis besar yang ingin dia ungkapkan dan yang mendasari beberapa alasan di bawah ini mengapa Apple tidak usah ikut2an terjun ke industri ini.

Pertama adalah Apple selalu berpikir berbeda. Tengok saja saat jaman Steve Jobs berkuasa dimana dia membuat segala sesuatu unik dengan dasar yang sama dengan pesaingnya. Contoh saja beberapa produk dengan awalan huruf I yang berarti mereka berbeda meski operasinya tetap sama. Namun ala mereka terapkan itu dalam dunia kendaraan yang mengharuskan beberapa aspek tetap standar seperti teknis, keamanan, desain dan pemasaran. Bisakah ideologi Apple ditahan untuk hal – hal seperti itu?

Rentang waktu adalah alasan kedua. Apple adalah perusahaan teknologi yang ide-idenya selalu cepat bergulir dan diimplementasikan. Sedangkan industry otomotif adalah ruang penantian dimana sebuah konsep dapat menunggu 3 sampai 4 tahun dan bahkan lebih untuk sampai ke lini produksi. Bayangkan saja bila sebenarnya Apple sudah sanggup membuat perintah membuka pintu garasi yang terintegrasi dalam kendaraan sementara  pembuat kendaraan sekarang hanya menaruhnya di rak tunggu karena hal tersebut tidak akan sanggup diterapkan hingga 2020.

Dan yang terakhir adalah segi keuntungan. Mengutip pernyataan Akerson kepada Bloomberg, dia tidak akan merasa senang sebagai seorang pemegang saham Apple bia mereka terjun ke industri otomotif. “Orang-orang yang tidak biasa di dalamnya akan menganggap remeh sebelum mereka terjun. Padahal regulasilah yang membuat sulit penerjunan sebuah teknologi hingga sanggup diaplikasikan ke pasar. Belum lagi prospek keuntungan jangka panjang layaknya bisnis manufakturing berat  low-margin” jelasnya lengkap.