Saya selalu menahan tawa manakala teringat adegan-adegan lucu yang dilakoni John Travolta, Tim Allen, Martin Lawrence, dan William Macy dalam film berjudul “Wild Hogs” yang rilis pada 2007. Adegan-adegan yang menyuguhkan keakraban sekelompok pengendara motor berpadu dengan humor ringan, cukup membuat film tersebut jadi favorit saya di waktu senggang.

Mabua-Cafe-9

Adegan-adegan lucu sepanjang film tersebut juga menghasut saja melakukan perjalanan serupa bersama orang-orang terpenting dalam hidup.

Mabua-Cafe-9

Meski nyatanya, saya bukan rider dengan koleksi motor asli Amerika seperti Woody Stevens (Jhon Travolta) dkk, melainkan kuda besi bergenre adventure asal Negeri Sakura. Dan entah kapan pula, saya bisa menjelajahi mulusnya jalan antar negara bagian di Amerika.

Mabua-Cafe-9

Namun, untuk sekarang saya cukup bersyukur bisa duduk bersama orang-orang terdekat di sebuah cafe bernuansa industrial yang berlokasi di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Di sini, kami saling melempar tawa hasil guyonan yang tak jauh-jauh dari tema wanita.

Mabua-Cafe-9

Kontradiksi memang sempat muncul saat mengarahkan tunggangan ke cafe yang punya waktu operasional seminggu penuh hingga pukul 22.00 WIB ini. Wajar saja, nama besar Harley-Davidson yang menempel pada Mabua Cafe membuat saya pikir-pikir untuk menyinggahinya.

Mabua-Cafe-9

“Mungkin ini cafe khusus pemilik Harley-Davidson, kalaupun tidak, paling-paling pengunjungnya didominasi dari kalangan yang sama,” pikir saya.

Mabua-Cafe-9

Ternyata dugaan salah. “Kita ingin mengajak teman-teman yang bukan pemilik Harley-Davidson untuk datang ke Mabua Cafe,” ujar Mardiono Sugiarto, orang yang bertanggung jawab untuk urusan marketing komunikasi PT Mabua Motor Indonesia.

Mabua-Cafe-9

Memasukinya, kami disambut oleh showroom yang diisi oleh motor-motor, tentunya bermerek Harley Davidson. Cafe berkapasitas 140 orang tersebut baru bisa ditemui saat naik ke lantai dua. Saya duduk menghadap bar yang diisi ornamen-ornamen serba Harley, misalnya tangki motor yang dihias sedemikian rupa.

Mabua-Cafe-9

Menu pun datang, isinya makanan-makanan dari kawasan Asia dan Barat. Saya langsung mengecap lidah begitu membaca Sop Buntut Bakar. Sementara, ada juga rekan yang memesan menu andalan lainnya, seperti Nasi Kebuli, Nasi Bunga Kecombrang, serta Spaghetti Salmon.

Mabua-Cafe-9

Soal Sop Buntut Bakar itu, bisa dibilang harga tak berbanding lurus dengan suguhan. Namun dalam arti yang positif. Dengan harganya yang tak sampai tujuh puluh ribu, porsinya sungguh luar biasa. Olahan rempah-rempah yang jadi bahan bakunya membuat menu ini begitu renyah.

Mabua-Cafe-9

Sementara minumnya, kami semua sepakat memesan bir lokal. Lalu, meneguknya sambil menyapu pandangan sekeliling cafe yang berlamat di Jl. Ciputat Raya No.123, Pondok Pinang, Keb. Lama, Jaksel. Perasaan canggung yang sempat muncul di awal mulai menguap. Meyakinkan diri kalau cafe ini merupakan tempat ideal untuk segala keperluan di kemudian hari.

Mabua-Cafe-9

“Kita terbuka untuk umum, harga kita affordable. Kita juga welcome untuk berbagai acara. Mau private party, pemotretan prewed, seminar, dan konfrensi pers juga bisa. Untuk makanannya kita bisa diskusikan, bahkan untuk makanan yang tidak ada di menu. Kita fleksibel di sini,” jelas pria yang kerap disapa Ardi tersebut yang menemani kami sepanjang kunjungan.