IMG_4639_resize

Berbagai cara dilakukan oleh orang-orang untuk mengisi masa pensiun. Mulai dari berbisinis hingga memanjakan diri lewat hobi-hobi menarik. Marsekal Madya (Purnawirawan) Suprihadi lebih memilih untuk memelihara dan mengkoleksi mobil-mobil klasik.  Alasannya,  karena merawat dan memelihara mobil klasik itu seperti menerbangkan pesawat tempur F5 Tiger yang dulu kerap dibesutnya. “Sama-sama membutuhkan komitmen yang tinggi,” ujar pria yang lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Bagian Udara tahun 1972 ini.

IMG_4635_resize

Saran Keluarga

Tidak seperti kolektor mobil klasik lainnya, influence terbesar bagi mantan Sekjen Dephankam tersebut justru datang dari keluarga. Kesepakatan antara dirinya dengan istri dan anak-anak lah yang membuatnya berada dalam dunia ini. “Mereka bilang kalau saya sudah cukup terbang selama 25 tahun. Lebih baik sekarang cari hobi lain saja yang sama-sama mengasyikan, sama-sama membutuhkan komitmen yang tinggi tapi juga bermanfaat bagi kita semua,” tambah pria yang akrab disapa Pak Pri ini. Alasannya, mobil klasik dapat dipacu untuk pelesir kemana saja bersama keluarga.

Jika saat menerbangkan pesawat tempur memerlukan sense of flying yang membutuhkan mental dan fisik yang prima, maka saat bermain mobil klasik kebiasaan tersebut juga otomatis langsung diimplementasikan. Mulai dari proses perburuan, tahapan restorasi hingga mengemudikan mobil klasik juga butuh komitmen yang tinggi guna menghasilkan sebuah passion tersendiri. “Tingkat kepuasannya sangat berbeda. Karena saya bisa mencari dan merestorasi mobil-mobil yang dikoleksi menjadi indah, nyaman dan aman serta saya selalu berusaha untuk mengembalikannya seperti kondisi saat keluar dari pabrik,” tutur pehobi aerosport itu.

IMG_4661_resize

Restorasi Terfokus

Indahnya gemulai mobil klasik yang berlalu-lalang di Jerman semasa bertugas, membuat Marsekal Madya (Purnawirawan) Suprihadi terpesona. Maka wajar saja jika kini di garasi rumahnya yang asri di kawasan Cilangkap didominasi oleh varian legendaris lansiran Mercedes-Benz. Mulai dari 190SL cabrio tahun 1955, 220S cabrio tahun 1956, Pagoda 230SL tahun 1966, 280SE 3.5 coupe tahun 1971 hingga Tipe 300 Adenauer tahun 1953. Masih belum cukup dengan mobil produksi manufaktur berlogo three-pointed stars itu, bapak dua anak ini juga mengkoleksi mobil mantan Presiden Soekarno, Cadillac Fleetwood buatan tahun 1964.

Beberapa mobil yang masuk kategori rare di Indonesia tersebut sebagian besar didapat dalam kondisi yang menyedihkan. Beberapa bagian bodi sudah hancur terkena korosi. Dan bahkan bagian bodypart sudah banyak yang hilang. Solusinya? Seperti kolektor mobil klasik lainnya, mengimport komponen dari luar negeri masih menjadi andalan.  Bedanya, “Semua mobil yang saya bangun dari keadaan bangkai hingga jadi hanya memakan waktu hingga 6 bulan, termasuk Cadillac Fleetwood ex RI 1. Karena mengimplementasikan pakem komitmen dan fokus, maka saya dengan bantuan beberapa mekanik yang sudah dibekali oleh pengetahuan yang cukup bisa merestorasi mobil tersebut menjadi layak dan pantas untuk ditumpangi oleh seorang pejabat tertinggi di Negara ini,” tutup Pak Pri.