“Loving him is like driving a new Maserati down a dead-end street. Faster than the wind, passionate as sin, ending so suddenly.”

Petikan lirik dalam lagu Red karya Taylor Swift itulah yang selalu ada di benak saya apabila melihat mobil berlogo trisula Poseidon yang cantik dan indah. Passionate as sin but faster than the wind. Ya, memang keindahan tubuh setiap mobil produksinya membuat kita selalu bergairah dan bila ditanya performa, duh, pabrikan mobil super italia mana sih yang tidak bsa diajak berpacu kencang?

Namun dari sekian banyak koleksi Maserati yang pernah saya lihat, ada satu model yang cukup signifikan untuk menjadi catatan di buku harian saya, Maserati 200SI. Sebuah mobil yang cukup legendaris untuk diingat. Pasalnya dia sempat menjadi besutan dari sekian banyak nama-nama besar di dunia motor sport seperti Carroll Shelby dan Stirling Moss, belum lagi sederetan di belakangnya seperti Behra, Bracco dan Farina.

200SI adalah turunan dari versi produksi 200S. Namun karena diperuntukan untuk terjun di dunia balap, embel-embel Sport Internazionale disematkan di belakang namanya. Demi menaruh kesan yang jelas bila mobil ini telah memenuhi spesiikasi dan prasyarat untuk kegiatan balap internasional.

Prestasinya yang diukirnya jelas tentu mengesankan. Berbekal mesin 4C2F DOHC 2.0-liter yang diomot dari 200S berkekuatan 187dk, mobil ini sudah pernah mengantongi juara pertama di Trofeo Supercortemaggiore dalam versi 250S. Sebagai underdog yang tidak pernah dipikirkan kehadirannya, mobil ini sukses mempercundangi 4 Ferrari 500TRs sekaligus dalam satu balapan, mencatatkan kemenangan ikonik dalam sebuah sejarah motorsport dunia.

Ada 3 keluaran pertamanya yang benar-benar dibuat Maserati langsung oleh tangan Celestino Fiandri. Dapat terlhiat dari akhiran catnya yang benar-benar sama sekali dibuat mentah. Tertarik memilikinya? Ada satu di situs pelelangan Gooding & company yang sudah memiliki sejarah panjang di dunia balap, diantaranya adalah Trofeo Vigorelli (1956), Gran Premio di Napoli (1956) dan Gran Premio di Bari (1956). Harganya ya silahkan diskusikan sendiri dengan sang kurator.