Cuaca cerah dengan langit biru menemani setiap langkah kami di Hiroshima. Sebuah kota yang memiliki kenangan tak begitu mengenakkan bila menengok ke masa-masa Perang Dunia ke-2. Gedung, rumah, kantor boleh jadi runtuh saat itu, namun tidak dengan semangat kota ini untuk melanjutkan roda kehidupan.

Hingga kini entitas di dalamnya pun terus berkembang. Tak terkecuali Mazda Motor Corporation yang telah menjadi bagian dari Hiroshima semenjak berdiri pada 1920. Markas besar perusahaan yang sebelumnya menggunakan nama Toyo Cork Kogyo ini berdiri tegak di atas lahan seluas 905,0l1 km persegi.

Dan salah satu bangunan di dalam komplek tersebut ialah Mazda Museum, lokasi di mana publik bisa menyaksikan rekaman sejarah perjalanan Mazda tersaji apik. Keberadaan museum ini cukup spesial bagi kota mengingat ini merupakan satu-satunya pusat sejarah industri otomotif di region Chugoku-Shikoku. Setiap tahunnya, museum ini berhasil menyedot hingga 70.000 pengunjung.

Rekam jejak Mazda mulai saat memproduksi Mazdago (motor angkut barang roda tiga) hingga produk-produk terbarunya bisa disaksikan di sini.

Time Tunnel

Penampilan luar museum ini bisa dibilang tidak ada yang istimewa. Bangunan berbentuk boxy dengan laburan warna putih tampak samar dengan bangunan-bangunan lain yang ada di dalam komplek Mazda Headquarter ini.

Memasuki ruang bawah, para pengunjung akan disambut oleh warna-warni jagoan Mazda terbaru. Mulai dari Mazda3, Mazda2 hingga sosok anggun Mazda Roadster. Masih di lantai yang sama, sebelum memulai flashback, penggalan sejarah Mazda dapat disimak lewat pemutaran video. Di sini Anda dapat menyaksikan kiprah Mazda sebelum perang dunia hingga sekarang.

Kendati jauh dari kesan mewah, namun penempatan mobil-mobil sesuai dengan tahun pembuatan seolah mengajak pengunjung untuk memasuki lorong waktu. Mazda Vehicle Chronicle dimulai dengan penampakkan Mazdago. Three-wheeled open body truck ini sesungguhnya adalah sepeda motor dua tempat duduk dengan ruang kargo di belakang.

Display selanjutnya adalah deretan sedan mini lansiran Mazda seperti keluarga seri 360, Bongo 800 hingga jajaran varian RX. Di seberang tampak keanggunan sport car pertama Mazda, Cosmo Sport 110S yang disandingkan dengan Mazda Eunos Roadster. Cosmo 110S juga merupakan varian pertama Mazda yang mengusung mesin revolusioner rotary 1.0L 2-rotor Wankel yang memulai debutnya di ajang Tokyo Motor Show tahun 1964.

The Legacy Continues

Sejujurnya, sangat disayangkan pabrikan sebesar Mazda seolah tidak mempersiapkan sebuah museum tempat bersemayamnya sejarah otomotif mereka di dunia dengan serius. Buktinya, konsep desain interior di Mazda Museum terasa cukup membosankan. Meski demikian, (untungnya) penampilan sempurna dari ikon pabrikan yang dibangun oleh Jujiro Matsuda ini mampu mengubur hambarnya tampilan ruang dalam.

Di lorong berikutnya sosok legendaris Mazda RX7 tampak menggoda. Lekukan yang tajam dengan gaya modern yang diinspirasikan oleh Lotus Elan membuat peraih Top Ten Sports Car dari Car and Driver serta Sports Car International ini laku hingga 86 ribu unit di Amerika Serikat dalam debut perdananya.

Selain bisa menyimak sejarah mesin rotary, di ruang berikutnya para pengunjung juga dapat melihat torehan tinta emas Mazda di dunia motorsport. Mazda berhasil menjadi pabrikan Jepang pertama yang mampu menjuarai ajang balap ketahanan LeMans lewat tipe 787B di tahun 1991.

Melalui mobil berkelir oranye dan hijau inilah penghasil daya raksasa 4-rotor 26B Wenkel menjadi mesin rotary pertama yang dapat menjadi kampiun di balap legendaris tersebut. Mesin yang diproduksi di Inggris pada tahun yang sama ini diklaim mampu mengelontorkan daya hingga 930 HP dengan batas redline hingga 10.500 rpm.

Out of The Box Environment

Berbeda dengan pabrikan lainnya yang konstan dengan mobil hybrid, Mazda tetap berusaha tampil beda dengan menerapkan teknologi yang diklaim lebih maju dibanding kompetitornya. Ya, pabrikan yang sempat berkonsinyasi dengan Ford Motor Company tersebut ngotot mengembangkan mobil berbahan bakar hidrogen.

Pasalnya, mesin peminum air dimaksud tidak memiliki emisi gas buang (zero emission). Tak heran jika di Mazda Museum ini terdapat beberapa varian yang mengadopsi mesin hidrogen. Sebut saja Mazda HR-X, HR-X2 hingga yang paling mutahir Mazda RX-8 Hydrogen RE.

Penyejuk mata terakhir yang bakal dinikmati oleh pengunjung setelah 90 menit berjalan kaki adalah evolusi dari jargon Zoom-Zoom yang diagungkan Mazda, mobil konsep berjuluk Ryuga. Varian yang memulai debutnya di Detroit Auto Show (NAIAS) 2007 ini menganut pakem baru yang dalam bahasa Jepang disebut Nagare yang berarti mengalir.

Proses kelahiran Mazda Ryuga dibidani oleh Global Design Director baru Mazda, Laurens van den Acker dengan mengadopsi tiga konsep desain yang unik.