Oemah Djowo b

Pulang ke kotamu, Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi..
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama, suasana Jogja

Jogjakarta, KLA Project

Memang, Jogja itu bak jelaga yang terisi oleh banyak kenangan akan masa lalu. Dari sejarah, kesenian, bangunan dan kuliner, plus memori, seakan terangkum manis di kota Gudeg ini.

Yang menarik, di kota yang berdiri pada 13 Februari 1755 ini, saya masih bisa menemukan sebuah tempat unik bak sebongkah mesin waktu, yang siap mengantarkan saya dan beberapa kerabat semasa kuliah untuk kembali ke era tahun 50-an. Dan hanya di gerai bernama Oemah Djowo inilah, saya bisa mengumbar cerita semasa kuliah, sembari menikmati secara langsung kenyamanan dan kehangatan dari bangunan joglo. Tidak hanya itu, kami juga bisa mengecap pesona pringgitan khas Jogja, termasuk perabotan kuno, seperti sepeda onthel, andhong, patung punokawan, lampu robyong, furnitur berbahan Jati, serta perkakas kuno jaman dahulu sengaja diletakkan di atas meja jati lekat dengan nuansa retro.

Oemah Djowo

Belum sempat mendaratkan badan di atas kursi kayu, seketika mata terperanjak ke selatan ruang, hingga membawa kaki ini beranjak menuju ke sebuah zona pendaratan lekuk besi tua, yang berisi koleksi kendaraan klasik yang telah berusia puluhan tahun. Ya, di sebuah bangunan berbentuk hanggar pesawat itulah ragam mobil kuno, koleksi dari Chevrolet, Holden serta Ford teronggok kaku namun tetap terawat. Hampir semua kendaraan pajangan berjenis pick-up tersebut telah direstorasi, dan masih bisa dipergunakan oleh sang pemilik.

Masih di area yang sama, rentetan motor-motor antik seperti Honda C-50 dan C-70, Suzuki GP 100, Kawasaki Binter AR125, Harley Davidson dan BSA, plus motor KTM seri terbaru serta trail mini Yamaha DT80 yang terparkir rapi di sebelah mobil-mobil klasik tersebut, tampak membuai visual dan membuat saya makin betah berleha leha di area tersebut. Dan jujur saja, pemandangan seperti ini akan membuat siapa saja yang datang, bisa merasa seperti hidup di era Indonesia, pada zaman penjajah.

Oemah Djowo a

Ini paket yang lengkap, bung! Di ibu kota tak ada yang mampu memberikan atmosfer temaram, berbalut suasana klasik nan mewah bercampur budaya seperti ini. Dan hanya di resto berkapasitas 200 orang inilah saya bisa melahap variasi menu panganan khas Jawa kuno yang sudah jarang, bahkan tak bisa kita cicipi. Seperti besutan menu pilihan saya ini yaitu Iga Bakar Tatit yang diolah dengan rempah-rempah bumbu tradisional. Taste saos rempah seperti jahe dan cabe kontras terasa di lidah, dan kombinasi menu Western dengan bumbu rempah tradisional ini cukup menggelitik di indra pengecap. Iga Bakar Lowanu yang dipesan oleh seorang teman-pun juga cukup menarik untuk dicicipi. Meski olahannya hampir sama , namun sensasi manis dari saus dan gurihnya daging menjadi ciri pembeda diantara Iga Bakar Lowanu dan Iga Bakar Tatit. Oh ya, karena kami rindu dengan masakan ibu di desa, kami pun akhirnya pesan sepiring Oseng Godhong Gandul, yang dikombinasikan dengan ikan teri. Kelezatan nasih hangat bercampur bumbu tradisonal dari menu sayuran itu membuat kami mendadak homesick.

Kerinduan akan rumah kian membabi buta dalam benak saat rintikan air hujan menyapa. Namun, untung saja, kegalauan itu seakan terobati saat lidah berhasil mengecap segarnya ice cream, bercampur manisnya pisang goreng dari menu Gedhang Anyes. Untuk menutup malam, kami sengaja meminta salah seorang pelayan nan ramah di Oemah Djowo untuk membawakan segelas kehangatan dari semar mendhem. Ya, minuman kombinasi serbuk kayu manis, cengkeh, kapulaga, jahe, dan gula aren ini telah berhasil menghapus dahaga, sekaligus mengusir dinginnya malam di kota kenangan, Jogja.