Ducati merupakan nama besar dalam dunia roda dua. Pengguna serta penggemarnya pun tersebar di banyak negara. Tak terkecuali Indonesia. Di Tanah Air sendiri setidaknya terdapat dua komunitas yang menjadi wadah bagi para pemilik Ducati, yaitu DDOCI (Ducati Desmo Owners Club Indonesia) dan DSO (Ducati Superbike Owners).

Untuk yang pertama, DDOCI, komunitas ini sudah cukup lama berdiri, yaitu sejak Agustus 2001. Dari yang awalnya cuma dihuni member dalam hitungan jari, kini DDOCI telah beranggotakan sekitar 300 orang. Komunitas yang dipimpin Heru Prakoso ini bersifat umum. Dalam artian terbuka bagi pemilik Ducati tipe apapun.

Tapi dari beragam tipe tersebut, ‘Monster’ adalah yang paling dominan. Dikarenakan naked bike itu sudah cukup lama dipasarkan Ducati sehingga populasinya terbilang subur. Setelah itu, barulah disusul ‘Diavel’.

“Kita menaungi seluruh Indonesia dan belum membuka chapter. Namun hasil munas kemarin, akhir Desember, ada permintaan dari beberapa daerah untuk dibukakan chapter. Contohnya seperti Palembang, Bali, lalu Semarang,” terang Heru yang belum lama mengemban tugas sebagai President DDOCI (2015-2017).

Akomodir Para Speed Freak

Bila DDOCI diisi oleh member dengan tipe yang bervariasi, lain halnya DSO. Komunitas pimpinan presiden Dimas Bimantoro ini khusus menaungi para pemilik superbike Ducati. “Bukan memisahkan diri tapi kita berupaya lebih mengakomodir para speed freak. Jadi kita sering bikin acara latihan bareng di Sentul. Ada coaching clinic-nya juga,” jelas Dimas.

Sampai sekarang DSO baru beranggotakan sekitar 30 orang. Tipe-tipe superbike Ducati yang populer di kalangan anggotanya adalah 748, 749, 848, 1098, 1198, 1298, dan Panigale. Dimas menambahkan, ia dan anggota DSO lainnya memilih superbike karena tipe ini dianggap benar-benar mewakili nama besar brand Ducati yang sudah malang melintang di lintasan balap. “Ibaratnya, Ferrari on two wheels,” sambung Dimas.

“Dan jika bicara superbike itu, kan, berarti motor balap. Kalau dipakai di jalan raya, selain bahaya, juga kurang maksimal. Tapi kalau di Sentul bisa dipuas-puasin. Walau kecang-kencang banget juga tidak tapi setidaknya bisa menyalurkan hasrat untuk merasakan performa superbike-nya,” imbuh Dimas.