Hidup itu misteri. Tidak ada satu individu pun yang bisa memprediksi nasibnya bahkan untuk satu detik ke depan. Apapun yang didapat patut disyukuri, betul?

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Pemahaman tentang kehidupan yang begitu berarti dari Mahendra Pratama Pitrawan, pria asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang mendapat ‘pusaka’ berupa mesin JAP side-valve 400cc sekitar tiga tahun lalu. Momen yang begitu spesial baginya.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Saat pria-pria lain seumuran banyak berlaga di atas sepeda motor modern, Mahendra yang lahir 31 tahun silam lebih sudi mengorbankan waktu mengurus pusaka antik. “Karena saya suka klasik,” tegas pria yang sehari-hari mengabdikan diri di Polres Pati ini.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Kehadiran Brough miliknya di lantai pameran Kustomfest 2015 pada awal Oktober silam bukanlah suatu hal yang instan. Bahkan, sebelumnya Mahendra tidak mendapatkan sepeda motor tersebut secara utuh. “Hanya mesin dan gearbox,” katanya kepada TheGaspol.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Kreatifitas mulai diuji. Untungnya sepeda motor tersebut berada di tangan yang tepat. Lewat ketekunan ‘Mbah’ Yusuf, punggawa Lowo Abang Art Cycle, Bali, satu persatu komponen rancang bangun sepeda motor tersebut mulai dibuat secara handmade dengan mengacu pada konsep Brough Motorcycle yang dipadankan dengan mesin karya John Alfred Prestwich tersebut.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Frame handmade Lowo Abang Art Cycle. Termasuk aksesorisnya,” tutur Mahendra. “Hanya tromol depan dan belakang pakai punya motor tahun 1920-an, gearbox Sturmey Archer 4-speed, serta velg berukuran 21 inci lengkap dengan jari-jari yang dicomot dari milik sepeda motor klasik lainnya.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Dengan reputasinya sebagai ‘seniman teknik’ papan atas, ‘Mbah’ Yusuf tidak mengalami kendala berarti dalam proses pembangunan sepeda motor ini. “Butuh waktu hingga tiga tahun untuk mencari taksunya,” ungkap Mahendra. Taksu, istilah yang populer pada masyarakat Bali berkenaan nilai-nilai estetika serta landasan berpikir guna mencapai kualitas.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Sosok motor milik Mahendra bukan hanya sedap di mata dengan wibawa yang menyertai. Fungsinya sebagai sebuah kendaraan juga tetap dikejar. Guna melancarkan kinerja mesin, sang builder melakukan sedikit modifikasi pada sistem pelumasan.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

“Untuk memudahkan dibuat pompa yang menempel pada tangki oli mesin,” terangnya. “Otomatis membuat klep selalu basah,” sambung Mahendra. Sistem serupa juga dicangkokkan pada tangki bensin yang berfungsi untuk membuka dan menutup aliran bahan bakar ke karburator. Sistem tersebut dikreasikan sedemikian rupa agar sesuai dengan sepeda motor keluaran tahun 20-an,” tambahnya. Sementara karbit yang awalnya dipakai untuk menyalakan lampu depan dan belakang berdesain mirip besutan era yang sama kini aktif dengan menggunakan bohlam. Hingga sekarang ayah dari Aisyah Qaireena Mahendra ini  merasa puas dengan sosok motor miliknya.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Bahkan ia mengaku tak berniat untuk mencari komponen asli sepeda motor tersebut. Alasannya ialah ikatan batin yang kadung terbangun dengan sang pembuat. “Motor sudah jalan normal, centreShock depan juga normal. Untuk jalan masih enak,” jelasnya.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Mahendra mengaku tak pernah ngoyo untuk mendapatkan model tertentu. “Sepeda motor itu jodoh-jodohan. Dia akan mencari tuannya sendiri, jadi patut disyukuri,” yakin Mahendra.

1917-Brough Motorcycle JAP-Engine-COVER

Begitu rampung dibangun, dari bengkel berjuluk Sawah Garage, sepeda motor tersebut dikapalkan menggunakan peti menuju Pati. Lalu, persiapan final dilakoni untuk mengejar Kustomfest 2015. “Nggak pakai towing karena ini bukan Harley atau Moge,” tutupnya dengan tawa.