Sampai dengan akhir dekade 1950an, transportasi publik belum beroperasi hingga tengah malam. Sedangkan, orang-orang dengan dandanan necis ini butuh tunggangan untuk membawanya dari satu pub ke pub lainnya. Tempat tersebut kerap menjadi destinasi utama lepas bekerja karena mereka ini pandai bergaul dan jago berdansa.

Mods 1

Tak puas dengan pub yang hanya buka sampai pukul 23.00, para pemuda London ini pun hengkang ke coffee shop 24 jam untuk melanjutkan malam. Favoritnya, coffee shop dengan jukebox tempat mereka menghabiskan koin untuk menikmati alunan musik African-American soul, Jamaican ska, British beat sampai R&B dan tidak melirik ke tembang-tembang pop bernuansa cinta.

Mods 2

Tentunya, punya mobil bukan pilihan karena harganya waktu itu yang dianggap mahal. Mereka ini para pekerja yang tergolong masih belia. Tapi yang jadi dilema, demi gengsi mereka tak sudi busana favoritnya ternoda. Maka, skuter Italia macam Vespa dan Lambretta dianggap sebagai pilihan ideal.

Mods 4

Mereka mengendarai skuter itu sambil mengenakan parka guna melindungi jas yang dipadu dengan dasi tipis, kemeja slim-fit, dan jumper. Tak ketinggalan juga sepasang boots yang sama dengan yang mereka gunakan untuk bekerja.

Mods 8

Hidup sebagai generasi pertama seusai Perang Dunia II, membuat kelompok pemuda ini punya banyak waktu luang untuk mengekspresikan diri. Yang paling menonjol adalah semangatnya untuk melawan pemikiran kolot dan dominasi sistem kelas. Untuk itulah, pemuda yang umumnya masih berusia belasan tahun ini dijuluki Modernist atau yang akrab dipanggil Mod.

Mods 9

Tak dipungkiri, perkembangan media massa yang kian pesat seusai perang membawa banyak pegaruh bagi Mod. Yang jelas, Mod ialah penikmat sejati suguhan majalah dan tayangan televisi, khususnya yang berasal dari Perancis dan Italia. Maka, tak ayal kalau dandanan mereka mengadopsi tren terbaru.

Mods 6

Sayangnya, gairah kaum muda ini kerap dipandang beda oleh para pendahulunya. Alih-alih dinilai sebagai agen perubahan, Mod malah dicap sebagai pemberontak. Apa yang Mod anggap sebagai penanda kesiapannya mengambil peran di masyarakat, malah dikira sebagai ancaman bagi generasi lama.

Mods And Rockers

Eksistensi Mods juga menjadi kontradiksi saat harus  berdampingan dengan Rockers yang masih mewarisi identitas 1950an. Sejak kelahirannya, Mods dan Rockers menjadi subkultur pemuda Inggris dengan gaya dan ideologi yang bertolak belakang. Ujungnya bisa ditebak, kerusuhan-kerusuhan kerap mewarnai perseturan kedua subkultur ini. Sampai puncaknya, bentrok besar di kota-kota pantai selatan Inggris di 1964.

Mods Quadrophenia

Di 1979, sebuah film bertajuk Quadrophenia yang diproduseri oleh band the Who dan mengambil set medio 1964 pun meledak. Film tersebut menginspirasi jutaan kaum muda untuk larut dalam gerakan budaya Mod dan membuatnya dikenal di seantero jagad.

Mods vs Rockers

 

Bahkan hingga hari ini, subkultur dimaksud tetap tertanam kuat di banyak Negara. Mulai dari Jerman, AS, Jepang hingga Indonesia. Maka tak heran jika nyaris di setiap daerah di Nusantara memiliki selebrasi khusus dengan tajuk berbeda, namun bernafas serupa. Seperti Mods May Day hingga Mods vs Rockers.

Indonesia-Mods-May-Day-2015-COVER

Mod terus memainkan peranan penting di dalam berbagai lini kehidupan kaum muda di seluruh dunia. Subkultur ini membuat orang bangga menjalaninya dan menjadi salah satu youth subculture yang paling bergaya yang pernah hadir mengharumkan bumi ini.