Sekitar setengah abad silam, kemeriahan festival Whitsun berubah menjadi ledakan-ledakan amarah anak muda Inggris. Kerusuhan yang melibatkan sekitar seribu pemuda itu, kemudian dikenal sebagai puncak perseteruan dua subkultur dominan di tanah Britania ; Mods vs Rockers.

Meletusnya tragedi Whitsun sontak jadi santapan media massa. Jurnalis Jhon Savage menulis, kala itu berbagai editorial mengecam dan memprediksi potensi terjadinya kehancuran nasional.

Headline bombastis yang muncul seperti ‘Battle of Brighton’ pun kian menambah kengerian di tengah masyarakat. Membuat tragedi itu seperti perang sungguhan yang memperebutkan sebuah negara.

Walaupun, anggapan itu tak sepenuhnya salah jika menyimak penuturan John Braden, seorang Mod asal London. “Saya terlibat beberapa pertarungan, tertawa, saya tak pernah begitu menikmati diri saya sejak lama. Pantai itu seperti medan perang. Itu seperti kita sedang berusaha merebut sebuah negara,” kata pria yang masih berusia 18 tahun saat tragedi Whitsun meletus.

Ia melanjutkan, “Kamu ingin memukul balik semua orang tua yang coba memberitahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu hanya ingin menunjukkan bahwa kamu tak akan menurutinya.“

Pernyataan tersebut menjadi pembuka dalam buku Generation X karangan sosiolog Charles Hamblett dan Jane Deverson. Yang kemudian semakin mengukuhkan posisi generasi baru dalam upayanya mengklaim ruang serta waktunya sendiri.

Mengutip media Inggris BBC, perselisihan Mods vs Rockers memang telah lama pudar. Kendati demikian, fenomena tersebut telah menciptakan pola kerusuhan tribal yang dilanjutkan oleh kelompok-kelompok yang tersisa. Misalnya, Skinheads vs Hippies pada era yang sama dan Punks vs Teds pada dekade 1970an.

Tragedi Whitsun juga menjadi contoh konsep “kepanikan moral” yang dirumuskan oleh sosiolog Jock Young. Fenomena Mods vs Rockers  dianggap mewakili sebuah kondisi atau episode saat seseorang atau kelompok muncul menjadi ancaman bagi nilai-nilai sosial. Episode itu pun dilahirkan oleh stereotip yang dibangun oleh media massa.

Bagi generasi baru, youth culture dianggap sebagai hal yang natural. Malahan, jadi penanda kesiapan mereka untuk mengambil peran dalam masyarakat. Namun, tidak demikian dengan generasi lama yang justru merasa terancam. Mungkinkah Mods vs Rocker terjadi lagi? Tentu bisa. Terlebih jika masing-masing penganut subkultur saling mendahulukan egonya.

Hadirnya perhelatan Mods vs Rockers yang untuk kedua kalinya akan digelar di Jakarta bertepatan dengan Hari Kemerdekaan (17/8) seolah ingin mematahkan stigma ini. Tiap pelaku subkultur dimaksud berdandan maksimal sambil membesut pacuan kebanggaannya berkolaborasi untuk mewujudkan visi yang sama. So, tunggu kelanjutannya!