Di pasaran banyak tersedia Turbo Timer aftermarket. Masing-masing merek dan penjualnya, punya cara masing-masing untuk membuat barangnya dibeli konsumen, misalnya, “mobil berturbo wajib pasang Turbo Timer agar awet dan tidak cepat rusak,” begitu ujaran yang paling sering terdengar dari dalam toko-toko penjaja aksesori dan kebutuhan kendaraan.

Belakangan, seiring makin maraknya mobil-mobil bermesin berinduksi udara atau Turbocharger yang dipasarkan baik untuk penenggak bensin ataupun solar. Nissan Magnite adalah yang paling terbaru dengan sumber pacu HRAO 1.0L Turbo. Lantas, kebutuhan akan instalasi Turbo Timer semakin sering dipertanyakan oleh konsumen.

Sebelum menjawab hal tersebut, kami akan sedikit berkisah bagaimana Turbocharger bekerja.

Sesuai tugasnya, Turbocharger adalah alat mekanis pemampat udara untuk mesin yang bekerja melalui tendangan gas buang untuk memutar kipas kompresor. Saat bilah kipas kompresor berputar, maka akan menciptakan dorongan udara yang diinduksikan ke dalam ruang bakar melalui intake manifold dan throttle body (katup jalur udara masuk ke mesin).

Bilah turbin atau kipas kompresor yang berada di dalam unit Turbocharger dapat berputar 10 kali lipat lebih banyak dari pada putaran mesin itu sendiri. Pada mesin empat silinder produksi massal misalnya, putaran maksimalnya dibatasi hingga 7.500 rpm, bahkan kurang di beberapa mobil. Sementara kipas kompresor turbo dapat berputar hingga 80.000 rpm bahkan lebih saat kinerjanya maksimal.

Untuk menjaga kondisi bilah kompresor turbo serta perangkat as dan bantalannya, sistem ini menggunakan pendingin oli yang sama dengan mesin yang didistribusikan oleh pompa oli bawaan mobil. Jika pada saat putarannya belum stabil dan langsung dimatikan, maka suplai oli pendingin terhenti secara tiba-tiba, padahal rumah keong turbo dan seisinya masih membutuhkan pendinginan.

Saat bilah kompresor berputar, maka bilah akan menciptakan panas yang tersebar di seluruh bagian rumah keong. Beberapa komponen memang dirancang dapat memuai dalam batas toleransinya, oleh karenanya suplai oli sebagai pendingin wajib hukumnya. Agar panas yang diciptakan tidak berlebihan dan merusak komponen Turbocharger.

Bayangkan jika suhunya belum reda kembali ke awal dan mesin langsung dimatikan, seluruh komponen di dalam rumah keong mengalami perubahan suhu secara drastis tanpa pendinginan oli. Jika perlakuan seperti itu sering dilakukan, lama kelamaan jeroan didalam peranti Turbocharger akan mengalami perubahan bentuk fisik, keausan dan bahkan macet. Seperti itu kira-kira.

Menurut para pakar di bidang teknik otomotif, idealnya turbo akan mengalami pendinginan yang optimal saat berada di putaran terendahnya. Dalam hal ini saat kondisi mesin mobil sedang idle. Oleh karenanya disarankan untuk beberapa saat menjalani idle atau putaran mesin stabil tanpa di gas baru mematikan mesin mobil.

Kembali ke soal Turbo Timer. Peranti ini bertugas untuk menjaga mesin tetap hidup selama beberapa detik meskipun kunci kontak dicabut. Umumnya timer bekerja mulai dari 30 detik hingga satu menit. Artinya pemilik mobil tidak perlu menunggu beberapa waktu saat mesin idle.

Namun pada praktiknya, dalam kondisi normal belum ada pengguna mobil yang langsung mematikan mesinnya setelah mobil dibesut pada putaran tinggi atau pada saat Turbocharger bekerja di titik maksimal.

Kata Theodorus Suryajaya misalnya, pria yang akrab dipanggil Teddy ini merupakan pemilik bengkel REV Engineering di Kedoya, Jakarta Barat. Di tempat kerjanya, kerap kali kedapatan tugas untuk meningkatkan performa mobil-mobil bensin dan diesel dengan Turbocharger.

Soal perubahan suhu ekstrim pada Turbocharger saat mesin dimatikan tiba-tiba setelah dibesut, menurutnya sangat jarang terjadi. “Saat tiba di rumah atau kantor, tentunya kan mengalami proses slow down terlebih dahulu setelah mobil dijalankan. Misalnya dari muai masuk kompleks, buka pagar, ambil tiket parkir dan proses mencari parkir hingga kendaraan itu terparkir sempurna sudah menjalani pendinginan turbo yang ideal, Jadi langsung mematikan mesin ya tidak ada masalah,” ujarnya.

Kamipun sependapat dengannya. Kita ambil contoh lain saat mengisi bahan bakar di SPBU misalnya, dimulai dari proses pengereman sebelum pintu masuk SPBU hingga mobil berhenti sempurna di dispenser SPBU sudah mengalami penurunan rpm dan pendinginan Turbocharger selama lebih dari satu menit, belum lagi kalau ada antrian.

Termasuk bila kejadiannya saat berada di jalan tol. Sejak masuk ke area tempat peristirahatan kendaraan sudah mengalami penurunan rpm dan suhu kerja mesin yang drastis ketimbang saat kendaraan dibesut di jalan tol. Dari mulai masuk ke area peristirahatan, umumnya kendaraan hanya berkecepatan maksimal 20 km/jam jika arus lalu lintasnya lancar, lebih dari pada itu cari masalah namanya.

Sepengetahuan kami, belum pernah terjadi ada kendaraan yang tiba-tiba masuk Rest Area dan berhenti secara ekstrim di SPBU dari kecepatan tinggi, diatas 80 km/jam.

Teddy berujar, idealnya Turbo Timer memang pengaplikasiannya di mobil-mobil kompetisi. Saat masuk pit misalnya setelah digeber mengitari sirkuit dengan kecepatan penuh, memang diperlukan Turbo Timer agar proses pendingingan lebih ideal. Oleh karenanya perangkat Turbo Timer adalah produksi tuner-tuner atau produsen onderdil kompetisi kenamaan.

Namun pada kenyataannya, menurut penelusuran kami tidak semua mobil kompetisi menggunakan fitur Turbo Timer. Salah satunya adalah Andi Paengrongi dari ProDrag Racing, ia tidak menggunakan peranti tersebut pada Mitsubishi Lancer Evolution IX besutannya di drag race karena sekembalinya mobil dari ujung lintasan pengereman menuju pit dijalankan pada kecepatan yang cukup rendah. Dengan begitu Turbocharger akan menjalani pendinginan yang ideal.

Logikanya, bila Turbo Timer dianggap penting, seluruh pabrikan pasti sudah menjadikan perangkat tersebut sebagai menu wajib. Pada kenyataannya?

Bijaklah dalam menentukan mana perangkat tambahan yang memang diperlukan bagi kendaraan ataukah hanya sebagai aksesori atau hiasan saja.