IMG_3406

Sebuah brand yang berkarakter itu, tak bisa menyenangkan semua pihak. Sebaliknya, justru merk yang kurang  karakter akan selalu berusaha untuk membuat semua happy.

Statement sederhana, namun bermakna dalam dari seorang  pria kelahiran 10  Desember 1963 ini-pun sontak merubah suasana obrolan kami. Perbincangan ringan seputar kendaraan roda dua, tetiba menjadi hal yang serius untuk disimak.

Tanpa basa-basi, kami lanjutkan chit-chat yang kian seru ini dengan seseorang yang ternyata punya andil besar di beberapa perusahaan otomotif premium di tanah air. Dan tepat di sebuah sudut ruang pajang sekaligus café bergaya Inggris, di Jakarta, pertanyaan-pun kembali mengalir tanpa henti ke Paulus Suranto, Managing Director PT Triumph Motorcycle Indonesia ini. Hingga….

IMG_3424

Anda sudah dikenal berpengalaman sebagai petinggi di beberapa perusahaan otomotif nasional. Sudah berapa tahun Anda berkecimpung di dunia otomotif. Khususnya perusahaan kendaraan roda empat yang exclusive atau berkelas premium?

Hmmm… Saya sudah 18 tahun bekerja di perusahaan roda empat. Dan pertama kali saya bekerja di General Motor sebagai Area Sales wilayah Indonesia Timur. Empat tahun bekerja di GM, saya-pun akhirnya pindah ke BMW dari 2000 hingga 2003. Kemudian yang terakhir, sejak 2004 sampai 2013 saya berkarya di Indomobil Group, tepatnya di Volvo.

Nah, Anda sudah ‘kenyang’ bergelut di roda empat, akhirnya handle perusahaan sepeda motor. Lalu, apa yang pertama kali Anda pikirkan sehingga mau terima tawaran mengelola brand roda dua berkelas premium seperti ini?

Terlepas dari masa muda saya yan gemar riding sewaktu kuliah di Bandung dengan Kawasaki KE.  Jadi sebenarnya jiwa bikers saya ada. Namun bicara tentang Triumph, dari segi professionalisme nomor satu yang saya lihat adalah brand dan company-nya dulu. Saya merasakan, brand Triumph ini asik untuk diajak kerja sama dan saya merasa enjoy untuk bekerja di perusahaan ini. Orang-orang-nya fun, seperti tak ada jarak antara pimpinan dan staff. Cukup menyenangkan tentunya. Apalagi saat saya berkunjung ke sana. Saya cukup terkejut melihat sebagian besar karyawan dan karyawati disana telah bekerja selama puluhan tahun. Ya, cukup awet untuk sebuah perusahaan, apalagi western company seperti ini.

 

IMG_3407

Melihat hal itu, Corporate Culture yang seperti apa sih yang dijalani Triumph selama ini?

Menurut saya, mereka lebih ke family. Ada sebuah cerita, di tahun 2002 pabrik pusat Triumph disana terbakar habis. Kemudian John Bloor membangun pabrik yang kedua di lahan yang beda,  tak terlalu jauh dari situ. Dan selama satu tahun pembangunan pabrik baru itu, tak ada seorangpun karyawan yang di rumahkan atau di lay-off. Mereka semua masih dibayar seperti biasa. Dan culture seperti itulah yang benar-benar kuat di perusahaan ini. Selain itu office politic-nya sangat sedikit sekali disini. Kita semua bekerja bersama-sama untuk kebaikan perusahaan.

Bukankah kultur perusahaan yang lebih ke Family akan terlihat lebih slow? Alias bekerja layaknya seniman.

Dan meskipun mereka bekerja di perusahaan yang ‘slow’, mereka tetap memegang teguh komitmen sebagai karyawan. Ya, target is target. Deadline is deadline. Tapi setiap orang disana menghadapi deadline juga target dengan fun. Tidak sampai stress.

IMG_3401

Wah, tampaknya Anda telah nyaman berkecimpung di kolam roda dua. Nah, kami ingin tahu bagaimana kiat yang Anda lakukan. Mengingat setiap brand tentunya punya treatment khusus untuk grab customer-nya ?

Saya rasa hampir semua dunia sales sama saja. Untuk brand premium, tentunya punya karakter dan personality sendiri.  Tinggal bagaimana prospek buyer ini mengasosiasikan diri dengan brand-brand tersebut. Dan sebenarnya keberadaan kami disini hanya untuk menginformasikan bagaimana karakter brandnnya dan bagaimana produknya. Jadi biarkan masyarakat yang memilih. Bisa dibilang semua sepeda motor kelas premium itu bagus, dari segi teknologi, kualitas dan lainnya. Tinggal cocok-cocokan saja.  Namun, Triumph sendiri punya keunggulan dari segi comfort dan easy to ride. Dan kita memang mengklaim bahwa Triumph adalah kendaraan roda dua yang digunakan untuk day to day activity bukan untuk weekend saja. Saat ini saya  menunggang Triumph Tiger 800 berjenis adventure. Saya ke kantor-pun sekarang riding dengan motor gambot ini. Dan hasilnya memang nggak capek.

IMG_3430

Jadi hampir mirip karakter pembeli sepeda motor premium dengan mobil premium?

Singkat kata, treatment-nya hampir sama. Cuma ada perbedaan yang luar biasa. Saat saya jualan Volvo atau BMW. Kebiasaan customer sejak  beli hingga dijual lagi, belum tentu satu kali-pun mereka menginjak lantai showroom. Sedangkan Triumph termasuk motor premium yang punya konsumen enthusiast, passion dan personal sekali. Mereka sering datang ke bengkel sendiri, memilih-milih motor langsung ke showroom, bahkan kalau mereka sudah membeli motor tersebut, mungkin mereka tak memperbolehkan orang lain mengendarainya.

IMG_3405

Sedikit pertanyaan nakal. Melihat karakter konsumen Volvo , BMW dan Mercedes-Benz. Orang pasti bakal lebih memilih Mercedes Benz sebagai Top of mind mobil mewah ketika ia sudah mencapai titik kemapanan. Dan bagi sebagian besar orang, Harley-Davidson pasti telah menjadi top of mind-nya. Dengan pengalaman itu, bagaimana Anda mengaplikasikannya di penjualan motor Triumph ini?

Saya lihat Triumph punya peluang besar untuk menjadi top of mind. Melihat lini produknya yang terbilang oke, sangat kompetitif dan brand juga bagus. Namun untuk di Indonesia memang belum dikenal, karena belum ada upaya untuk memperkenalkan kendaraan itu. Nah, ketika sekarang principle kami sudah datang, maka kami mulai memperkenalkan itu ke khalayak.

IMG_3415

Terakhir, ketika kami browsing di sejumlah web lifestyle sepeda motor di Amerika. Terutama di kawasan California, tongkorngan orang-orang disana sudah naik  Ducati, Triumph dan brand non Amerika. Ini menunjukkan culture ber-roda dua mereka sudah beralih ke brand Triumph. Jadi adakah ajakan dari Anda untuk bikers tanah airu ntuk sedikit melirik Triumph?

Semua motor premium di Indonesia itu bagus, kualitas dan teknologi bagus. Tapi karakter saja yang beda.  Tapi kalau ada kesempatan sih, cobalah Triumph. Setelah mencoba dan merasakan, silahkan menilai sendiri dan pertimbangkan.  Sebenarnya Triumph adalah sebuah alternatif  brand motor gede yang ada di Indonesia sekarang ini. Dan memang kebetulan brand ini bagus, cukup dikenal bahkan di Amerika-pun image brand ini kian kuat.