Shock Absorber atau umum disebut sokbreker, menyumbang lebih dari 80% faktor kenyamanan dalam sistem suspensi mobil. Sesuai namanya, sokbreker atau peredam kejut yang telah berkurang daya tahannya,  mengakibatkan ayunan berlebih pada mobil saat melibas jalan rusak dan mengurangi kenyamanan.

Selain kenyamanan, melemahnya kerja peredam kejut ini juga membuat kestabilan mobil berkurang. Khususnya pada kecepatan tinggi dan saat bermanuver, lemahnya pergerakan axial sokbreker berkontribusi terhadap berlebihnya body roll saat menikung atau berpindah jalur.

Mengganti baru ternyata bukan satu-satunya solusi mengembalikan performa peredam kejut pada mobil. Sokbreker dapat di rekondisi asal kondisi jeroannya masih tergolong aman dan belum masuk kategori rusak.

“Pada dasarnya ada beberapa peranti yang harus diperhatikan sebelum merekondisi sokbreker. Yaitu klep di dasar selongsong sokbreker, as sokbreker dan sil penahan olinya. Ketiga peranti tersebut harus dalam kondisi yang belum hancur atau masih dapat dipakai,” terang Ferry Rahman dari Ferry Creative Shock.

Shock-Absorber

Pria bertubuh kekar ini menambahkan jika ketiga bagian tersebut ada yang sudah dalam kondisi rusak parah, sebaiknya sokbreker memang diganti baru. Misalnya as sokbreker yang sudah baret, sil penahan oli yang sudah mekar ataupun klep tekanan hidraulis yang sudah bocor.

Disebut rekondisi, karena isi yang terdapat didalam tabung peredam kejut diganti dengan yang baru. Baik oli maupun gas nitrogen yang ada didalam sistem sokbreker seperti yang umum digunakan pada berbagai pabrikan mobil.

Kelebihan lain, rekondisi ini dapat menyesuaikan tekanan atau ayunan dari peredam kejut tersebut sesuai dengan yang diinginkan. Jika ayunan dinilai terlalu lembut dan tak sesuai dengan karakter mengemudi, saat merekondisi dapat dibuat lebih keras dengan menambah tekanan cairan hidraulis dan gas nitrogennya.

“Biasanya untuk sokbreker standard bawaan mobil memiliki tekanan 35 psi di depan dan 30 psi di belakang. Jika ingin lebih keras, tekanannya dapat ditambah satu step di kelipatan 5 psi,” jelas Ferry yang memiliki gerai di Jl. Panjang No.10 seberang ITC Permata Hijau dan Jl. Kembang Kerep No.88 Puri Kembangan ini.

IMG_3795-01

Dengan garansi masa pakai yang diberikan hingga enam bulan, rekondisi peredam kejut ini lebih menggiurkan bagi konsumen yang ingin menghemat pengeluaran. Untuk merekondisi sepasang sokbreker hidraulis dibanderol Rp 450 ribu hingga Rp 650 ribu, tergantung besaran peredam kejut.

Jika dibandingkan dengan menebus peredam kejut baru, harga yang ditawarkan jelas lebih ekonomis. Sebagai contoh, sepasang sokbreker depan Mitsubishi Lancer 2007 merek Kayaba lansiran Jepang dihargai Rp 1,250 juta sepasang. Sementara belakang berharga Rp 1,150 juta sepasang.

Masa pakai secara jangka panjang pun kembali ke konsumen sebagai pengguna mobil. Ferry menyebutkan jika mobil digunakan dalam kondisi normal dengan gaya mengemudi halus, peredam kejut hasil rekondisinya dapat bertahan hingga dua tahun.

Mirip dengan masa pakai peredam kejut baru, namun dengan harga yang lebih terjangkau bukan?!