Kemacetan yang makin menjadi-jadi di kota besar seperti Jakarta menuntut pengemudi berada di dalam mobil untuk waktu yang lama. Akibatnya, kebosanan hingga stress kerap menghampiri. Maka tak aneh kalau kendaraan yang ideal jadi suatu keharusan.

Atlit motorsport Tanah Air Rifat Sungkar punya pandangan sendiri dalam mengartikan kendaraan perkotaan yang ideal.

“Sebetulnya mobil perkotaan itu kuncinya adalah kalau macet Anda tidak stress dalam mobil,” tuturnya. Ia menambahkan, bahwa ada kecenderungan kalau pengemudi akan merasa lebih happy saat berada di dalam kabin kendaraan yang punya nuansa positif.

Ia mengartikan nuansa positif yang dimaksud dengan kehadiran nuansa modern pada sektor interior, contohnya desain-desain lining yang atraktif. “Ambiens tersebut diciptakan karena sekarang kita lebih banyak di dalam mobil ketimbang di kantor. Maka diciptakan lining yang menarik tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Rifat percaya bahwa biaya yang dikeluarkan untuk bahan bakar masih jadi salah satu pertimbangan konsumen kendaraan perkotaan. Bahkan, pada segment premium sekalipun. Hal itu tercermin dari lahirnya kendaraan-kendaraan premium Eropa yang menggunakan mesin diesel.

“Kalau Anda sadar, Mercy-mercy yang mahal mesinnya kebanyakan diesel semua sekarang,” tutur Rifat. Menurutnya, sudah banyak pergeseran teknologi yang terjadi pada industri otomotif. Termasuk berkembangnya tren kendaraan ramah lingkungan yang semakin memeriahkan pasar kendaraan perkotaan.

Terakhir, dimensi kendaraan juga patut diperhatikan. “Saya sehari-hari memang menggunakan Mitsubishi Pajero karena butuh ruang untuk menjemput rekan-rekan kerja,” kata Rifat yang sehari-hari berkendara dengan rute Senopati – Bintaro. Namun, saat kebutuhan itu tak mendesak, lebih baik berkomuter menggunakan kendaraan berdimensi kecil.

Perhatikan Manajemen Waktu

Pada kesempatan yang sama di booth Mitsubishi pada ajang GIIAS 2015, penggagas akademi berkendara Rifat Drive Labs tersebut juga menyurahkan perhatiannya pada kebiasaan yang berkembang pada pengemudi muda atau yang ia sebut sebagai green driver di Jakarta.

Sampai sekarang ia melihat masih banyak yang menganggap jalan raya sebagai tempat ‘pertarungan.’ Hal ini didorong oleh tekanan yang dirasakan saat berkendara. Salah satu penyebab munculnya tekanan tersebut ialah buruknya manajemen waktu pengendara itu sendiri.

Menurut Rifat, kebisaan buruk yang paling banyak dilakukan adalah tidak memperhitungan waktu tempuh yang ideal. Sehingga, membuat kita berkendara dengan terburu-buru dan merasa di bawah tekanan. Padahal, hal tersebut bisa dihindari kalau pengendara punya manajemen waktu yang baik.