Ringgo Agus h

Inspirasi itu bisa datang dari mana saja, bahkan lingkungan terdekat. Seperti yang dialami sendiri oleh mantan penyiar radio yang kini banting stir menjadi artis sinetron, Ringgo Agus Rahman. Akibat sering melihat motor-motor klasik keluaran Inggris seliweran di Kota Kembang, peraih gelar Pendatang Baru Terbaik di Festival Film Jakarta 2006 ini langsung jatuh cinta. Bahkan di dalam benaknya kini tertanam pakem, “Kalau motor ya motor Inggris”. Simak penuturan seputar cintanya terhadap Ruhiyat, musik hingga kegandrungannya pada negara berlambang union jack saat kami temui di sela-sela kesibukannya striping sinetron.

Ringgo Agus

Ringgo, sekarang kesibukan kamu apa saja?

Sekarang lagi striping sinteron yang tayang di salah satu televise swasta  judulnya Kita Nikah Yuk. Karen a gue mau nikahin anak orang dan gue rasa tabungan gue masih kurang makanya gue ambil striping. Hahahahaa.. Apalagi kisahnya mirip.. Hahahaaaa.. Orang yang susah kawin juga..

Bisa certain awal kamu masuk dunia entertainment?

Awal mulanya itu waktu di Bandung saya jadi penyiar. Lepas jadi penyiar saya langsung main film judulnya Jomblo.

Ringgo Agus g

Langsung pindah ngobrolin motor ya bro, motor apa yang kamu beli pertama kali dengan menggunakan hasil keringat sendiri?

Pertama kali saya beli motor itu Honda Astrea Grand Impreza. Setelah itu saya nebus Vespa PX dan Lambretta LN. Akhirnya itu Lambretta saya jual untuk nambahin beli Triumph Scrambler yang saya pakai setiap hari. Mulai dari meeting, syuting sampe ke kawinan ya pakai motor. Mobil malah nggak pernah dipakai.

Yang menginspirasi kamu main motor siapa?

Dari dulu saya sudah suka motor. Karena saya besar di Bandung, dan dulu Bandung itu tidak seperti Jakarta yang setiap hari bisa lihat rombongan motor besar keliling, saya selalu menikmati motor-motor yang dipakai oleh teman-teman Bikers Brotherhood.

Ringgo Agus b

Lalu kenapa harus motor Inggris?

Karena motor yang mereka pake rata-rata motor klasik dan keluaran Inggris jadi bisa dibilang saya besar di lingkungan motor Inggris. Ada BSA, Ariel, Norton dan masih banyak lagi. Apalagi gaya mereka tuh cool banget. Ada juga sih yang naik H-D, tapi kebanyakan bapak-bapak. Sementara anak mudanya ya naik motor Inggris. Jadi yang ada di otak saya kalau motor ya motor Inggris. Tapi belum kesampaian gara-gara belum punya duitnya. Apalagi ada salah satu sahabat saya yang kebetulan anak Brotherhood punya BSA tahun 47 lengkap pakai sespan. Jadi kemana-mana saya nebeng sama dia gara-gara motornya ada sespannya.

Bagaimana kamu bisa kecantol Triumph?

Naah, gara-gara motor Inggris sudah tertanam di otak, pas Triumph baru keluar langsung bilang “anjrit ye.. keren banget.” Bahkan awalnya saya datang ke showroom Triumph saya enggak mau beli motor, cuma mau beli helm. Dan saat saya pertama kali melihat bentuknya Triumph Scrambler, Saya langsung orgasme. Apalagi saya sudah punya jaket kulit ala Ramones, cocok deh buat dipakai bareng Triumph. Saya juga suka banget sama kultur-kulturnya, termasuk customnya kayak café racer yang belakangan naik lagi.

Ringgo Agus f

Kenapa harus Triumph Scrambler?

Sebenarnya saya sudah pernah nyoba tiga-tiganya. Kalau kamu suka klasik, kamu bisa pakai Bonneville, kalau suka café racer bisa beli Truxton, namun handlingnya tidak selincah Scrambler. Nah hati saya itu justru ke Scrambler soalnya dia lebih nakal. Dan saya juga ingin punya motor yang bisa dipakai setiap hari dan tidak hanya dipakai saat weekend. Motor saya ini dipakai setiap hari. Mulai dari meeting, syuting sampai datang ke pernikahan.

Apa ini Scrambler ini motor idaman kamu?

Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang freak sama motor. Saya cuma ingin punya motor yang bisa jadi motor harian. Jadi saya rasa Triumph Scrambler yang saya punya sekarang sudah cukup. Dan saya juga tidak akan pernah menjual motor ini. Akan saya wariskan ke anak perempuan saya nanti. Kenapa? Karena kalau anak cowok yang pakai motor ini jadi terlihat biasa saja. Kalau ada cewek yang naik Scrambler pasti bakalan jadi keren banget.

Ringgo Agus e

Motor kamu sudah dimodif apa saja?

Awalnya saya memang sudah suka bentuk standarnya, tapi suara knalpotnya tidak terdengar. Tadinya saya enggak peduli. Akhirnya saya mikir kalau naik motor di Jakarta ini, berarti masuk rimbanya para pengendara. Jadi ya suaranya harus besar agar suara knalpotnya terdengar sama pengendara lain yang suka belok-belok sembarangan. Setelah melihat-lihat punya orang akhirnya pilihan jatuh kepada DND buatan Texas, AS. Bentuknya tetap mirip sama knalpot standarnya tapi suaranya menggelegar. Saya juga sudah menyimpan beberapa komponen lain buatan JVB, LSL, British Racer, Speed Merchant, sama seat Compotech.

Katanya setiap kendaraan yang kamu punya ada namanya? Betul?

Tepat! Saya selalu memberikan nama ke semua kendaraan yang saya punya. Untuk mobil saya kasih nama Yayuk, Lambretta namanya Yono dan Scrambler ini saya kasih nama Ruhiyat. Karena menurut saya nama Ruhiyat bisa mewakili kegagahan yang ada di motor ini.

Ringgo Agus c

Pesen kamu untuk yang mau main motor?

Ada sebagian orang yang suka custom tapi malah mengorbankan kenyamanan. Nah, kenapa saya lebih memilih add on custom? Karena menurut saya itu tidak mengurangi tingkat kenyamanan berkendara.

Apa moto kamu dalam hidup?

Jalanin saja apa yang kamu suka dan WTF dengan kata orang. Hahahaaa.