Mungkin tak banyak yang tahu sisi lain dari kelahiran Jakarta 25 Februari 1981 ini. Tembang-tembang melankolis yang dilantunkan campuran Betawi-Manado ini memang dikenal cukup menghanyutkan serta membius hati yang mendengarkan. Namun untaian lagu mendayu itu ternyata jauh dari kehidupan aslinya. Dan saat di hari ulang tahunnya thegaspol.com menyambangi kediamannya di daerah Bintaro. Kami mendapatkan hal-hal seru. Well, simak obrolan kami berikut ini.

RIO-FEBRIAN-8

Rio, apa latar belakang pendidikan kamu?

Pendidikan terakhir S2. Maksudnya cukup sampai semester dua! Hahaha. Ya, saya pernah ambil jurusan komunikasi di Universitas Bung Karno, Jakarta. Saya angkatan pertama di fakultas itu dan tidak tamat.

Bagaimana ceritanya kamu bisa memilih karir sebagai penyanyi?

Saya sudah mulai sering ikutan lomba nyanyi sejak kelas 3 SD. Banyak festival tingkat nasional yang digelar di Jakarta, Bogor, Bandung yang saya ikuti. Prestasi Juara II Bahana Suara Pelajar tahun ’94, terus Juara II Bintang Radio & Televisi 1997. Nah, puncaknya adalah saya menyabet gelar Grand Champion di Asia Bagus tahun terakhir (1999).  Dan pernah juga bareng Elfa’s Choir ikut kompetisi paduan suara internasional, yaitu Choir Olympic 2000 di Linz, Austria dan meraih Juara I Male Ensemble dan Juara I Adult Choir.

RIO-FEBRIAN-1

So, berapa album yang sudah dirilis selama perjalanan karir kamu?

Bulan April ini akan rilis album ke 6 saya dengan judul Album 15 (baca: is). Hahaha alay ya? Ini maksudnya merayakan 15 tahun saya berkarir. Oh ya, album pertama Rio Febrian (2001). Lalu album kedua Aku Ada Di  Sini (2004), kemudian album ketiga Rio F3brian (E diganti angka 3 dengan maksud album ketiga) alay juga kan? Haha. Terus album ke empat Aku Bertahan (2009), lajut ke album ke lima The Greatest Indonesian Love Song (2012) yang menyanyikan ulang lagu-lagu Broery.

Yes, siapa yang menularkan hobi otomotif yang membuat kamu seperti sekarang ini?

Masa kecil saya yang tinggal di kawasan Kramat Sentiong, Senen, Jakarta Pusat. Tepatnya di dekat kuburan Kawi-Kawi sudah jelas jauh dari kesan glamour. Bisa hobi otomotif saja sudah bagus. Hahaa. Namun yang jelas saya mulai suka otomotif ketika karir nyanyi mulai bagus. Dan teman-teman dekat yang menjadi penuntun saya.

RIO-FEBRIAN-3

Saat karir mulai menanjak. Mobil atau motor yang pertama dibeli?

Yes, tahun 2001 saya mulai beli Timor S515 ’97. Maklum job nyanyi mulai padat, Jakarta – Bandung sering banget saat itu. Dan akhirnya saya jual karena koplingnya rusak terus. Hahaha.. Nah, kalau motor justru baru tahun 2002 saya punya. Ya, Vespa ET4. Warna putih dah dicat pelangi ala Paul Smith. Saya beli karena memang suka Vespa.

Di kalangan selebriti kamu juga terkenal suka naik motor besar. Bagaimana awalnya?

Nah, setelah punya Vespa ET4, tak lama saya beli Harley-Davidson Sportster. Tapi waktu punya Sportster punya cerita cukup nyebelin.

RIO-FEBRIAN

Bagaimana tuh ceritanya?

Pas nongkrong-nongkrong dengan dengan club Harley. Ada yang nyeletuk, “Mas ini Harley? Kok kecil banget ya?” Hahaha.. enggak pakai lama, motor itu saya ganti dengan Harley-Davidson Fatboy. Lumayan lama pakai Fatboy, dari tahun 2003 sampai 2010. Terus ganti lagi ke Road King. Enggak lama dari Road King, pindah aliran ke Ducati Multistrada.

Suka touring? Ikutan club?

Kalau touring suka banget. Paling jauh Jakarta-Bali PP sekitar tahun 2005. Kalau jadi anggota club enggak deh. Sempat ikutan club tapi enggak resmi, isinya orang-orang lucu semua, namanya “Chapter”. Hahaha..cukup Chapter, enggak tahu chapter mana? Hahaha..

RIO-FEBRIAN-2

Nah, di sini terlihat MINI Cooper Cabrio, Royal Enfield Classic dan Vespa Sprint Veloce. Bisa diceritakan satu persatu kenapa akhirnya ini menjadi penghuni garasi?

Dari ‘Bagol’ dulu ya (Bagol: sebutan penggemar Vespa untuk tipe Sprint Veloce yang berlampu bundar besar). Jaman masih pacaran dan punya ET4, dulu ada teman yang pakai bagol dan saya suka banget modelnya. Tak terlalu lama dari situ kebetulan saya berkenalan dengan salah satu kolektor Vespa yang tinggal di daerah Pondok Indah. Motornya banyak, beruntung dia mau Bantu cari bahan bagol. Dengan kebaikan hatinya dia mau bantu bangun dari awal dan mulai dipasaingi parts dan aksesoris baru dan orisinil. Nah, ini mainan saya yang paling awet sampai hari ini. Istri juga suka dengan motor ini. karenanya ada angka 14 di motor ini yang menandakan tanggal kelahirannya (14 Desember 1979)

RIO-FEBRIAN-4

Bagaimana dengan Royal Enfield?

Ini motor baru beberapa bulan di sini. setelah Ducati Multistrada dijual, saya sempat lama enggak main motor. Karena kesibukan dan kondisi Jakarta yang tak ideal untuk riding. Dan saya pikir, buat apa kalau cuma ke mall naik motor gede. Lalu lintas di sini cuma bikin emosi. Hahaha..jadi saat liburan dan waktu senggang ya saya lebih banyak jalanin hobi lari pagi deh. Tapi lama kelamaan enggak betah juga, lantaran hobi naik motor sudah mendalam. Akhirnya gatal juga kepingin punya lagi. Nah, ceritanya lucu. Gara-gara lihat profil pict David Naif, saya penasaran dan tanya ke dia. Bro, itu motor antik elo boleh ngebangun? “Enggak, ini motor baru tapi gayanya klasik,” kata David.

RIO-FEBRIAN-5

Lalu bagaimana kelanjutannya?

Ya saya naksir berat. Dan kebetulan David bisa bantu ngenalin ke showroomnya. Akhirnya saya menemukan motor yang proporsinya pas untuk di Jakarta. Buat touring dan gaya juga masih oke. Enggak panas dan tentu saja jauh dari kesan arogan.

Kalau MINI Cooper bagaimana ceritanya?

Waktu pertamakali lihat mobil ini di sebuah dealer IU (Importir Umum), saya langsung naksir. Saya beli karena unik, lucu, eksklusif dan belum banyak yang punya. saya juga suka banget dengan mobil ini. Dan mobil saya cukup langka, karena atapnya  berbahan canvas denim (jeans). Plat nomornya juga khusus terbaca nama saya. B 3 RIO. Padahal kalau mengukuti nama fam keluarga (Samandan). Bisa saja menjadi RFS ala ala pejabat. Hahaha.

RIO-FEBRIAN-9

Seperti apa sih standart mobil yang menjadi pilihan kamu?

Saya orangnya enggak betahan, paling lama mobil dua tahun dipegang. Gonta ganti terus. Tapi ketika lihat MINI kayaknya ini bisa disimpan dan dikoleksi. Dan mobil-mobil saya sebelumnya juga tak ada yang terasa spesial. Saya dan istri untuk hari-hari juga enggak pakai MINI ini, tapi pakai Toyota Harrier. Sayang soalnya, hahahaa.

Oh ya, sebagai pelaku dunia entertainment tanah air. Apa yang kamu lihat saat ini?

Dunia entertainment Indonesia sangat tak bisa diprediksi. Banyak tayangan yang tak tak layak tonton dan kurang mendidik bagi penonton yang justru malah laku. Lima tahun ke belakang ini saja saya pikir kualitasnya makin mundur. Padahal teknologi makin maju ya? Hahaha.. Yang penting dalam berkarya itu kita harus jujur.

RIO-FEBRIAN-11

Oh ya, Februari kan identik dengan Valentine. Bagaimana kamu memandang Valentine dengan pasangan kamu?

Saya enggak pernah merayakan Vallentine. Resepsi nikah saya dulu malah tanggal 13 Februari. Banyak yang bilang, “Gila, kenapa enggak 14 Februari? Kan keren pas Valentine?”  Ya enggak lah, pas tanggal 14 Februari saya manggung, bayarannya dobel. Kan pas tuh lagu-lagu saya dengan suasananya. Hahahahaha. Untuk mencurahkan kasih sayang ya bisa dicurahkan dalam bentuk perhatian. Saya dengan Sabria (Sabria Kono: istri yang juga penyanyi) juga sehari-hari tak begitu romantis. Hubungannya cenderung rock n roll, hahahaha. Perbedaan prinsip yang sampai saat ini kami jalani juga membuat kami saling respect. Dan saya banyak menemukan banyak message dari perbedaan ini. Kehadiran Jamaica Fosteriano Febrian (4 Tahun) dan Kalampati Sinarra Febrian (2 tahun) juga membuat saya lebih mengerti apa arti kehidupan ini.

RIO-FEBRIAN-10

Apa falsafat hidup kamu?

Kita hidup harus berguna untuk orang lain. Dan kebahagiaan akan diraih dari situ.