Sedan identik dengan sebuah kenyamanan, kemewahan dan performa yang cakap. Hingga akhirnya mobil ini dinobatkan sebagai kendaraan kaum berada yang sudah tidak lagi memikirkan soal harga dan konsumsi bahan bakar untuk membesutnya.

Pamor sedan adalah mobil milik kaum berada memang tidak pernah ketahuan persis siapa dan kapan tercetusnya. Namun hampir bisa dipastikan stigma sedan seperti itu sudah ada sejak era ‘60-‘70-an, dimana para pemangku-pemangku kepentingan menggunakan sedan berwarna hitam dengan kabin terlapis kulit yang eksklusif. Pun demikian dengan para pelaku-pelaku kejahatan kerah putih yang membesut sedan-sedan mewah di zamannya seperti yang tergambar dalam film-film lawas.

Termasuk di Indonesia, sedan kerap jadi kendaraan operasional pejabat-pejabat level kerja tinggi, kementerian hingga pemimpin negara. Hal ini semakin menegaskan sedan adalah sebuah benda mewah yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.

 

Persepsi seperti ini yang membuat harga jual sedan semakin melambung tinggi setiap tahunnya. Selain menyandang status yang berbeda, sedan juga dibebani dengan nominal pajak yang tidak sedikit. Pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN-BM) untuk sedan di bawah 1,5 liter adalah 30 persen, sementara di atas itu 40-75 persen. Sementara segmen-segmen lain hanya 10 persen saja.

Akibatnya, sedan menjadi segmen yang sulit berkembang di Indonesia. Dari tahun ke tahun, bisa dibilang ‘gigitan kuenya’ semakin sedikit dari seluruh ‘kue’ yang disuguhkan.

Belum lagi ditambah kapabilitasnya yang terbatas. Kondisi nyata infrastruktur jalan di Indonesia, membuat sedan hanya dapat beroperasional dengan tenang di kota-kota besar saja.

Kembali ke persepsi sedan merupakan kendaraan mewah, di Indonesia pandangan tersebut lahir dari zaman orde baru, dimana seperti yang disebutkan tadi para pemangku kepentingan di perusahaan, negara hingga pimpinan tertinggi bangsa semua menggunakan sedan sebagai alat transportasi hariannya.

Ditegaskan oleh I Gusti Putu Suryawirawan, yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Dirjen Ilmate Kemenperin), pola pikir ini tumbuh sejak zaman Orde Baru dan terus langgeng sampai sekarang. Ia mengatakan bahwa pembebanan pajak yang lebih tinggi disebabkan anggapan mobil ini dianggap hanya dapat dibeli kalangan orang kaya saja.

“Zaman Pak Harto orang beli sedan sudah dianggap orang kaya. Karena kaya, akhirnya dikasih pajak tinggi,” ujar Putu tiga tahun lalu dalam sebuah kesempatan.

Memang benar adanya, era orde baru merupakan zaman keemasan bagi sedan. Masing-masing pabrikan menelurkan model-model terbaiknya untuk bersaing secara global, termasuk di Indonesia. Adu kemewahan, adu kemampuan hingga adu kecanggihan di zamannya.

Bagaimana Toyota Crown hadir membawa kemewahan ala kekaisaran Jepang, Mercedes-Benz W123 dan W124 kemampuan performanya serta Volvo 740 dan 960 dengan kecanggihan turbochargernya, semua dikemas dalam konsep sedan mewah berdimensi besar yang lapang dan nyaman.

Well, zaman telah berubah. Saat ini sedan harus berkutat mati-matian melawan populasi MPV dan SUV yang terus tumbuh pesat di Indonesia.