Soul Kitchen l

Still one place to go
Let me sleep all night in your soul kitchen
Warm my mind near your gentle stove
Turn me out and I’ll wander baby
Stumblin’ in the neon groves

Bergelayut lalu. Empat tahun sebelum kepergian Jim Morrison, lirik Soul Kitchen di atas sempat terukir dan menjadi judul album yang cukup ‘booming’ di era 1967-an. Dan uniknya, rangkaian nada besutan The Doors itu, sengaja diciptakan untuk mengenang lembaran kisah masa lalu sang vokalis, Jim, saat menetap lama di Pantai Venice, Los Angeles dan kerap singgah di sebuah restoran bernama Olivia.

Soul Kitchen f

Namun Jim Morrison, Ray Manzarek, John Densmore, dan Robby Krieger, sudah tiada, namun, kejayaan masalalu dari album tersebut, masih tampak melekat di hati penggemarnya. Bahkan judul lagu ini menginspirasi banyak pengusaha kuliner untuk menggantungkan papan nama ‘Soulkitchen’ di pintu masuk restaurant. Dua diantaranya, adalah café yang terletak di St.Kilda Road, Melbourne, Australia,  serta tea room and coffee shop di Paris, Perancis.

Sekelumit tentang Soulkitchen di Eropa dan Aussie itu, berakhir dengan sebuah pertanyaan. Apakah papan nama berinisial SK tersebut membuka cabang di tanah air? Kulik punya kulik. Hasilnya? Beda. Pasalnya, café unik yang diciptakan oleh Dhafi Kadhafi, Bobby Ashur, Riza Rachbini, Primas, Windy dan Gilang ini sangat membuka lebar pintu gerbangnya, bagi kaum hobi. Seperti komunitas skaters, bikers, modifikator, designer hingga fotografer. Hmm… Bisa dibayangkan, betapa serunya tempat ini dijadikan sarana kumpul-kumpul, menambah teman dan berbagi ilmu.

Soul Kitchen k

Klik! Ini sesuai kepribadian saya. Seorang photographer sekaligus designer, yang doyan otak-atik dan meracik motor lama jadi sesuatu nan nyentrik plus limited. Sehingga saya pun tak harus berpikir panjang untuk segera besut rencana kongkow dengan kawanan Triumph lovers, ke café ‘bikers’ daerah jalan Kemang Raya Selatan No. 150D, Jakarta Selatan itu.

Akhinya. Seperti biasa. Dua hari sebelum weekend. Tepat pukul tujuh, seusai otak menjamah dan menyelesaikan tumpukkan materi desain pesanan klien, saya langsung bergegas membenahi dandanan. Ah, cukup pakai jeans buluk plus t-shirt kalau hanya sekedar ingin bersosialisasi sembari melepas rindu dengan teman-teman sehobi. Yang penting justru jaket Skull Jacquard Bomber Alexander McQueen dan tentunya si Bonanza sebagai pelindung kepala sekaligus penambah gaya.

Soul Kitchen d

Tanpa butuh waktu lama, bangunan minimalis dua tingkat berkelir hitam tersebut akhirnya berada tepat di hadapan. Sekitar tiga puluh motor beragama Brat Style dan Japstyle, telah terparkir rapi di arena parkir café tersebut. Dan untungnya saya masih kebagian jatah ruang yang cukup lapang untuk meninggalkan si T100 Black disana.

Setelah optik merasa puas memandangi ukiran kreasi di tubuh Honda dua gigi, akhirnya sepasang Style No. 9017 Beckman Chukka, Red Wings, membawa kaki melangkah ke dalam café yang dibuka pada pertengahan Oktober lalu.

Soul Kitchen m

Selang selangkah, setelah membuka gerbang Soulkitchen Kemang. Tepat di sebelah kanan dan kiri, kita langsung disambut kentalnya aura hobi, oleh Honda CX650 bergaya café racer dan Vespa Sprint S juga sepeda fixie terpajang. “Karakter yang kuat,” gumam saya. Dan jujur saja, saya betah untuk diam, tertegun dan terbungkam di hadapan mereka.

Langkah berlanjut. Tampilan interior yang tertata rapi, dan berestetika seakan mengumbar keharmonisan juga kenyamanan ruang. Hingga di lantai dua, beragam poster mungil bertemakan film lawas dan motor antik tampak menyapa dengan ramah di tembok. Dan uniknya, tepat di dekat tangga, uraian komponen dari Honda Z90 lawas berhasil mencuri perhatian. Selain itu, ragam tangki bahan bakar dari motor retro, tergantung manis di sudut outdoor yang kami pesan.

Soul Kitchen h

Eksotis dan idealis. Itulah yang saya tangkap sedari awal yang diamini oleh teman-teman. Eits, pakem ‘don’t ride and drunk’ sepertinya dipegang teguh oleh cafe dengan tagline ‘Dine In Ride On’ ini. Hmm.. Sebuah gebrakan terbilang berani. Mengingat banyak tempat di bilangan Kemang yang menyajikan beragam minuman beralkohol.

Buaian atmosfir homey nan unik, serta suguhan menu makanan dan minuman yang menggugah selera pun membantu kami untuk tak lagi menyentuh sang Jägermeister atau Vodka Danzka. Dan… ah… cacing di perut tampaknya sudah demo. Order pun terkirim sempurna ke pelayan ramah dengan sunggingan senyum merekah.

Soul Kitchen b

Selang setengah jam. Retro Soulpizza dan Hazelnut Soulcinno akhirnya merapat di paduan kayu hitam ini. Enam slice pizza bertabur jamur truffle hitam, daging asap, dan paprika warna-warni plus berbalut keju mozzarella juga saus tomat, makin mendorong air liur untuk mengiba. Segigit. Hm… adonan roti tipis dan saus pasta berdagingnya, berpadu nikmat dengan hamparan serabut dari mozzarella. Delicioso!. Kentalnya aksen Italia, dirasa cukup membuat lidah tak berhenti bergoyang.

Masih tersisa tiga potong. “ Thanks God! Ini nikmat!,” ungkapan itu terlontar spontan dari bibir. Dan dirasa-rasa, perut tak lagi terima order asupan makanan lezat. Namun, Hazelnut Soulcinno, masih melambai sebagai minuman penutup malam ini. But, wait. Porsi minuman tiga puluh ribuan ini membuat saya ‘takut’. Sanggup tak sanggup, saya terpaksa menyelesaikan misi perbaikan gizi.

Soul Kitchen

Gradasi putih, coklat bergarnish vanilla ice cream akhirnya memikat bibir untuk merasakannya. Seketika, tekstur lembut dari topping hazelnut plus ice cream yang bercampur susu juga kopi-nya, memberi signal ke otak untuk berkata, “ I can kill you, honey!.” Minuman yang menjadi special order dari Soulkitchen ini tampaknya menghipnotis kami. Hingga kami pun tak sadar, jarum jam sudah menunjuk ke pukul 1 dini hari. Saatnya, Soulkitchen menutup gerainya ini. Dan kami pun diharuskan meninggalkan kenyamanan ini, untuk sementara waktu. Mungkin saya harus datang di akhir minggu agar dapat berlama-lama di sini. Yah, setidaknya mulai pukul 4 sore sampai gerai dimaksud tutup tepat jam 3 pagi.