Stephanus 1

Hobi mengkoleksi mainan dan benda-benda yang bersifat signature ini sudah dijalaninya sejak kecil. Jadi jangan coba-coba menyaingi bungsu dari empat bersaudara putra dari pebulutangkis tempo dulu – Titus K Kurniad ini. Anda dijamin iri melihat isi lemari koleksinya. Namun bukan itu saja, ada cerita menarik yang dituturkan pria kelahiran Jakarta 18 September 1973 yang meniti karir sebagai Head of Consumer Engagement, di PT Philip Morris Indonesia ini tentang pengalaman bekerja di Jepang yang sempat ia jalani.

Bisa ceritakan bagaimana masa kecil Anda?

Masa kecil saya di daerah Grogol, lalu kelas 3 SD pindah ke Tirta Martha Pondok Indah sampai kelas 3 SMP. Nah SMA lanjut ke Los Angeles. Sebab saya anak bungsu dari 4 bersaudara, dan semua kakak saya sudah lebih dulu sekolah di Amerika. Ketimbang sendirian di sini, lebih baik menyusul mereka ke sana. Setelah mengambil jenjang High School selama empat tahun, saya terusin ke Citrus College, hingga akhirnya kuliah di California State University, San Bernardino.

Wah, ternyata sebagian masa kecil dihabiskan di negeri Paman Sam ya? Lalu kapan pulang ke tanah air?

Sembilan tahun saya habiskan di sana, akhir tahun ’96 gue pulang ke Indonesia, karena memang sudah selesai kuliahnya. Kebetulan juga saat itu krisis moneter dan kenaikan Dollar yang gila-gilaan ya membuat saya memutuskan untuk tetap di Indonesia. Walau sebenarnya ada niat mau ambil gelar master juga di Amerika.

Stephanus 6

Nah, apa yang dilakukan di sini setelah lulus?

Umumnya, anak-anak yang kuliah di luar negeri dan balik ke tanah air, pekerjaannya adalah BBD (Bantu Bantu Daddy). Tapi bukan hanya membantu usaha orang tua, lamaran kerja juga saya kirim ke berbagai perusahaan. Akhirnya saya diterima di McCann Erickson, sebuah agensi periklanan. Kerja di daerah Sudirman, dan pakai dasi, hahaha. Saya bertahan 2,5 tahun di sana, karena mungkin saya bukan di bagian kreatif ya. Jadi kadang klien bilang kita butuh campaign seperti ini atau itu, saya merasa kurang begitu mengerti dan enggak pernah merasa mendapatkan info yang full, seperti hanya setengah ceritanya saja yang terekam di kepala.

Lalu setelah dua setengah tahun di sana. Pindah kerja kemana selanjutnya?

Sampai akhirnya ada head hunter dari klien side yang kami handle. Ya, ternyata  ternyata Philip morris. Karena saya perokok, jadi saya senang bisa bekerja di perusahaan rokok. Itu tahun 1999 dimana kantornya berada di Plaza Bapindo  dan kemudian pindah ke Wisma GKBI hingga sekarang di One Pacific Place, yang kesemuanya notabene ada di kawasan Sudirman.  See, sudah 15  tahun saya kerja di sini. Dan memang perusahaan ini turn over karyawannya terbilang rendah.

Stephanus 2

Sebelumnya kerja di agensi, lalu pindah ke sisi klien. Apakah posisi yang berlawanan itu enak?

Ini justru menjadi keuntungan buat saya. Apalagi pernah pegang brand yang kini justru menjadi tempat kerja saya. Ya, at least tipu-tipunya orang agensi sudah paham banget deh. Hahaha. Malah ada istilah yang menyatakan, “The worst client adalah orang yang pernah kerja di agensi” hahaha. Karena kita tahu dapurnya agensi. Bila mereka bilang sudah OTW (on the way). Berarti mereka masih di meja printer tuh. Hahaha..

Apa yang menjadi prestasi pribadi ketika bekerja di sini?

Prestasi saya adalah acara Urban Jazz Crossover yang sejak tahun 2008 gue bikin dan masih hidup hingga saat ini.

Oh ya, Anda sempat dikirim untuk bekerja di Philip Morris Jepang kan?

Saya sempat dikirim ke Jepang dari tahun 2010 sampai 2013. Di sana menjabat sebagai Group Brand Manager dan pegang khusus Marlboro. Di pasar Jepang sendiri PM memiliki brand lainnya seperti Virginia Slim, Parliament dan Lark. Di Jepang saya banyak memikirkan strategi brand saja, tak seperti di Indonesia dimana activation-nya lebih maju.

Stephanus 7

Apakah Anda mengalami sebuah culture shock saat bekerja dengan orang-orang Jepang ini?

Benar-benar beda style. Mereka kelewat sopan dan sungkan. Ada sebuah contoh, ketika saya memerintahkan seorang staf (sebut saja A), “Saya perlu data-data, mungkin kamu bisa minta ke si B.” Saya tunggu data-data itu seminggu sampai dua minggu belum dikirim-kirim.  Saya tanya si A sambil curiga, “Hey, si B itu sebenarnya bisa enggak sih compile data-data ke saya?” Dengan cepat dia menjawab, “Mungkin si C lebih bisa handle itu pak.” Dalam hati saya, yaaaaah kenapa gak dari awal kamu bilang si C yang bisa. Itulah mereka, ucapan atasan sudah seperti perintah.

Ada lagi yang seru?

Saya pernah ajak masuk anak baru ke dalam ruang miting untuk saya ajak ngobrol-ngobrol. saya sudah duduk, dia tetap saja berdiri. Setelah beberapa menit berdiri, akhirnya dia bilang, “may I sit down?. Hahaha..urusan duduk saja sampai basa-basi. Duduk ya duduk saja lah.

Nah, selain sopan dan sungkan, apalagi pelajaran yang di dapat?

Orang Jepang memiliki budaya merundukkan badan (Ojigi). Tiap sebelum dan selesai meeting mereka berdiri. Setelah mengantar orang menuju pintu lift mereka akan merunduk hingga lift tertutup. Tapi bada dasarnya, kita sebagai gaigin (orang asing), tak wajib membalas dengan merunduk lagi. Dan setelah saya pelajari, ternyata Ojigi ini berkembang lebih kepada karena orang Jepang menghindari salaman lanataran merekasangat higienis. Lalu ada juga cara-cara membuang sampah mereka yang sangat unik. Tak boleh telepon saat naik kereta dan sebagainya. Awalnya memang susah beradaptasi, tapi lama kelamaan ini malah membuat hidup kita nyaman.

Stephanus 3

Jadi lebih ke budaya yang membekas ya?

Oh bukan itu saja, ada hal yang benar-benar membekas dalam hidup saya. Yaitu gempa bumi Sendai 11 Maret 2011. Jumat sore paling mendebarkan dalam hidup saya.  Sebenarnya dari Rabu sudah gempa, di lantai 23 tempat gue bekerja sangat terasa gedung bergoyang-goyang. Nah, pas Jumat itu ketika break di sela meeting dengan orang agency. Kami mengalami gempa hebat, namun orang agency ini bilang “don’t worry sir, gedung ini sudah memiliki suspensi anti gempa”. Perasaan hati memang takut, sebab baru kali ini merasakan gempa yang lumayan kuat.  Si orang agency bilang, kalau gerakan menyamping sih aman. Yang bahaya adalah vertical movement. Tak lama setelah di katakan itu, gedung tiba-tiba bergerak ke atas ke bawah. Lalu dia bilang, “this is very dangerous”. Hmm..

Lalu apa yang Anda lakukan saat itu?

Lari ke meja ambil handphone. Telpon istri enggak nyambung-nyambung, maklum 20 juta penduduk Tokyo pasti sedang pakai telpon juga tuh. Akhirnya selama dua jam kami tak boleh keluar kantor, dengan alas an di luar tidak lebih aman ketimbang dalam gedung. Dari jam 3 sampe jam 5 sore kami hanya diam dalam gedung dan benar-benar mati gaya dan bingung. Lihat televisi ternyata ada berita bahwa Tsunami sedang menyapu kota. Lantaran di televisi bahasa dan tulisannya Jepang, saya jadi enggak ngerti itu kejadian ada di mana. Lalu rekan kantor bilang, “tenang pak, itu di Sendai, kalau naik kereta cepat Shinkansen sekitar 2,5 jam (900 kilometer) jaraknya. Akhirnya jam 5 kami boleh keluar kantor, kami jalan kaki pulang ramai-ramai. Karena kereta tak beroperasi, yang ada hanya taksi. Di situ baru saya liat luar biasanya masyarakat Jepang, mereka mengantri taksi dengan barisan yang sangat lurus memanjang dan tertib.

Stephanus 5

Bagaimana kondisi keluarga Anda saat itu?

Saat setelah gempa istri saya sedang jemput anak saya sekolah. Dan dia sudah mengabarkan bahwa semua aman-aman saja. Sampai di rumah, perabotan berantakan semua. Dan pada saat berbenah itu, tetangga saya menginformasikan kepada saya sebuah berita yang kurang menyenangkan. “Pak, sebaiknya bapak sekeluarga jangan keluar rumah dulu, tutup semua pintu dan jendela, jangan pasang AC dan heater. Sebab menurut berita reactor nuklir sampe rumah rumah berantskan, dia masak bini gw. Malem sebelum masak tetangga ngebel, ngasih tau fukushima meledak reaktor nuklir di Fukushima rusak karena gempa. Takutnya kita bisa tercemar radioaktif”. Waaah, dari situ kami memutuskan untuk masak semua bahan makanan untuk menghadapi situasi ini.

Kami bisa membayangkan bagaimana kondisi itu, lalu apakah tindakan PM terhadap karyawannya?

Big boss saya malam itu telpon saya, “Kalian semua besok pagi pindah ke Osaka, Just pack lightly,” ujar boss saya. Sesuai perintah beliau, saya tak membawa banyak koper, hanya tas seperlunya saja. Namun setelah sampai di Osaka, big boss gue memerintahkan kami untuk pulang ke negara masing-masing. Atau ke Hong Kong. Uuupss, gue engak bawa passport. Tau kan hasilnya? Gue dimarahin habis-habisan sama big boss gue, hahaha.. Itulah yang membuat gue tiga hari kemudian baru bisa terbang ke Jakarta lantaran menunggu kiriman passport dari Tokyo yang diambilkan oleh pengurus rumah dinas saya. Hmmm..

Stephanus

Seru juga cerita Anda, lalu bagaimana kelanjutannya?

Seminggu di Jakarta, kantor menguhubungi saya bahwa sudah aman kembali ke Tokyo. Namun boleh memilih antara keluarga tetap stay di home town atau ikut kembali ke Tokyo. Saya pilih keluarga tetap di Jakarta. Sebab Tokyo masih gelap dan belum banyak orang keluar rumah. Apalagi gosip tentang air terkontaminasi radiasi juga membuat rasa khawatir masih tinggi. Pemerintah juga memberlakukan satu orang cuma diperbolehkan membeli air mineral hanya 1 liter dalam satu hari. beli seliter. Ngumpulin air, air harganya tidak ada yang naik. Tetep aja 100 yen. Dua bulan setelah gempa, PM mengadakan program volunteer untuk recovery Sendai. Saya ikut program itu lantaran dorongan moral yang sangat besar. Kami ikut membantu membersihkan kota di kawasan yang bisa dikatakan sebagai ring 3. Sebab bila masuk ke ring 1 takutnya masih menemukan jasad-jasad korban. Untuk program ini, setiap dua bulan PM mengirim 20 karyawan yang bersedia untuk diberangkatkan.

Well, sekarang kami ingin tahu cerita yang lebih berkaitan dengan hobi dan kesukaan. Oke, kita mulai dengan pertanyaan tentang mobil. Apa mobil yang Anda suka?

Kalau perkara mobil, saya BM (banyak maunya.red) banget. Van suka, Convertible suka, SUV suka, Hahaha. Tapi mobil idaman saat ini masih Porsche Panamera, buat saya sudah cukup ideal. Sebab nuansanya sport, untuk formil juga bisa karena sentuhannya sedan. Secara fungsi juga lumayan, karena bisa ajak anak istri jalan-jalan.

Stephanus 4

Nah, ini pertanyaan mandatory dari thegaspol.com. Masih ingat waktu pertamakali belajar mengemudi pakai mobil apa?

Ingat banget, haha. Pertama belajar pakai Mitsubishi Galant tahun 80an warna kopi susu, lalu lanjut ke Galant yang tahun lebih muda warna hijau metalik.

Boleh kami tebak? Pasti waktu di Amerika Anda pakai Honda Civic ya? (kebanyakan mahasiswa Indonesia di Amerika tahun 90-an pasti beli Honda atau Honda Civic.red)

Yes, pertama kali boleh beli mobil, saya pakai Honda Civic Wonder 2 pintu (Setrika). Dan lulus high-school baru ganti ke Acura Integra. Nah, pas lulus college, baru deh ganti mobil Eropa. Gue beli BMW 520i E34. Di situ baru jor-joran modifikasi. Velg dan body kit full AC Schnitzer, hahaha. Malah velg itu ikutan dikirim waktu saya kembali ke Indonesia. Sampai Indonesia pun saya beli BMW 520i E34 cuma karena memang biar velg itu tetap terpakai di sini. hahaa.

Lalu apa mobil yang pertamakali dibeli dengan hasil keringat sendiri?

Jujur, Mercedes C240 W203 itu adalah mobil yang pertama kali saya beli dari hasil keringat sendiri. Sebab sebelumnya masih berbentuk “sumbangan” orang tua dan mertua, hahahahaa..Waktu di Jepang pakai Porcshe Cayenne karena murah di sana. Awalnya mau beli Hummer H2, tapi parkir susah di sana. Haha.. sempat juga beli Mini Cooper Cabrio yang akhirnya saya sadari bahwa mobil ini sangat tidak penting untuk dibeli. Huftt..

Stephanus 8

Punya pengalaman di motorsport?

Waktu Marlboro punya program racing school dan kami bawa pemenangnya ke Italia untuk ikutan di F1 3-Seater. Nah sebelum puncaknya si peserta akan naik F1 3-Seater, peserta diwajibkan mengikuti beberapa tahapan test, salah satunya adalah slalom test dengan Alfa Romeo. Ternyata saya masuk tiga besar, dan pulang bawa piala, hahaha.

By the way, punya usaha sendiri selain bekerja di PM?

Nah, gue sih masih semangat bekerja di sini. Namun di satu sisi pengen juga punya usaha sendiri. Alhasil gue sama istri buka toko bunga.

Nah, bagaimana dengan bisnis toko bunga itu?

Waktu saya dinas di Jepang, para istri mendapatkan jatah untuk mengambil kursus apapun yang mereka suka. Dan kantor yang bayar semua itu. Kursus bahasa sudah mandatory, lalu kursus lainnya juga ditanggung. Nah, istri saya mengambil kursus merangkai bunga dan membuat bunga kering yang tahan lama. Karena istri saya adalah salah satu murid kesayangan gurunya. Mereka sangat support untuk memberikan hak franchise ketika istri saya berniat membuka toko bunga itu. Akhirnya di Pondok Indah Mal 1 kami buka Pre Fluer.

IMG_9097_resize

Kalau kami lihat ruang kerja Anda. Sepertinya Anda adalah kolektor mainan dan benda-benda unik. Bisa diceritakan sedikit tentang hobi itu?

Kalau mobil-mobilan memang sudah menjadi standar hobi anak laki-laki kan. Nah, waktu kecil, orang tua saya salut sama saya karena hafal semua jenis mobil. Ceritanya  mulai semakin seru ketika pindah ke Amerika.  Basicnya saya suka sama mobil yang tampilannya sudah di modifikasi. Dan ternyata di Amerika ada produk mainan yang sudah berbentuk custom, sudah ceper velg besar dan body kit. Seperti Jada Toys misalnya. Saking freak nya, saya beli enggak di toko. Tapi langsung di gudang distributor mainan. Sampai-sampai penjaga gudang membiarkan saya untuk masuk dan memilih sendiri.

Tapi kalau kami lihat bukan cuma mobil-mobilan saja yang Anda kumpulkan. Yang lain apa saja tuh?

Korek api Hard Rock Café hampir setiap negara. Lalu tanda tangan pembalap dan pemain bola favorit beserta foto mereka. Lalu ada juga action figure dari tokoh Marvel Comics hingga Bruce Lee. Ada juga sepatu Shaquille O’Neal, tanda tangan Jurgen Klinsmann di bola. Merchandise Marlboro dan banyak lagi. Jadi prinsipnya adalah benda yang related dengan olah raga, idola dan hobi yang saya suka.

Ada juga jajaran replica F1 tuh?

Yang saya kumpulkan hanya mobil F1 yang juara-juara saja. Jadi enggak semua tim saya koleksi.

IMG_9156_resize(1)

Bagaimana hobi ini ketika Anda di Jepang? Bukankah di sana surga mainan juga?

Yes, Akihabara adalah tempatnya. Kawasan itu banyak toko mainan. Tapi Jepang lebih banyak ke Action Figure. Ada istilah buat orang yang suka ke Akihabara. Bagi orang Jepang sendiri, mereka dianggap orang-orang aneh yang diberi julukan “ Aki Boys”

Bagaimana Anda mensiasati waktu Antara bekerja dan hobi mengkoleksi?

Saya beruntung kerja di Philip Morris. Karena bisa banyak bertemu langsung dengan para pembalap dan pemain bola idola berbarengan dengan ketika saya sedang perjalanan dinas. Bagaimana cara bisa foto bareng Rossi, Schumy dan lainnya kalau bukan pas sedang mengawal acara PM.

Dorongan untuk mengkoleksi sesuatu di diri Anda begitu kuatnya. Apakah enggak malah menyusahkan diri Anda?

Lama kelamaan kalau iman enggak kuat dan enggak pandai menahan. Tempat menyimpannya juga enggak cukup. Haha..

Apa motto hidup Anda?

Work Smart Play Smart