Suzuki Jimny JB43: Sebuah Ikon

Hari masih terang ketika saya mengunjungi Gearhead Monkey Garage (GMG). Sejujurnya, ini bukanlah kunjungan pertama saya.

Bisa dibilang saya sudah cukup akrab dengan suasana garasinya yang homey. Beberapa spare part mobil nongkrong di pojok ruangan, atribut Mooneyes menempel di dinding, dan sebuah Ford Mustang berdiri menawan di atas jackstand.

Ditambah teman diskusi hangat, tempat ini lumayan bikin betah. Seenggaknya buat mereka yang mengaku penggemar kendaraan.

Apalagi, selalu ada hal baru yang bisa diobrolin dengan orang-orang di sini. Dan topik besar pada hari itu adalah sebuah mobil mungil yang cukup unik dan bikin penasaran: Suzuki Jimny.

Kenyataannya, mobil berkelir putih tersebut baru saja tiba di bengkel GMG tak lama sebelum saya datang. Seorang kolega yang sekaligus pentolan GMG sengaja membeli Suzuki Jimny generasi terbaru untuk memenuhi rasa penasarannya.

Selama seharian kami sibuk ‘menelanjangi’ mobil tersebut. Membedah apa saja yang ada di interiornya (ya, isinya sangat minimalis) hingga menentukan arah modifikasi yang bisa diterapkan.

Sungguh suatu siang yang mengasyikkan. Meskipun dari awal kami sudah menyadari ada satu aspek dari mobil ini yang melahirkan “kekhawatiran”. Seandainya kata “kekecewaan” dinilai terlalu berlebihan.

Hal itu bukan menyangkut performa ataupun fitur. Karena kami sadar yang ditawarkan Jimny adalah fun factor dari balik kemudinya ketika diajak bermain ke medan off-road. Alih-alih kemegahan kabin dengan ramainya tombol di dasbor.

Tanda tanya itu cukup besar sampai-sampai terpikir; apakah semua Jimny baru yang masuk ke Indonesia seperti ini? Terutama produk dari batch pemesanan pertama yang dibuka PT Suzuki Indomobil Sales (SIS).

Ya, sejak kemunculannya di pameran GIIAS 2016, mobil ini memang langsung menyita banyak perhatian publik, terlebih pengemar jip. Dan tak perlu waktu lama bagi Suzuki untuk memenuhi kuota pemesanan.

Panampilannya di pameran itu seolah-olah menjadi momen nostalgia. Suzuki sudah sejak lama menghentikan penjualan jip mungil yang menjadi ikon pabrikan berlambang S ini. Menurut catatan kami, Agen Pemegang Merek (APM) Suzuki di Indonesia sudah tidak menjual lagi Jimny atau Katana sejak 2004 silam.

Kini jip mungil berpenggerak 4×4 ini sudah resmi mengaspal di tanah air. Suzuki sudah mulai mendistribusikan masing-masing unitnya ke konsumen yang memesan di pameran GIIAS tahun lalu. Dan seperti sudah diceritakan, kolega kami pemilik Gearhead Monkey Garage, builder custom untuk mobil dan motor di Tendean, Jakarta Selatan menjadi salah satu konsumen Suzuki Jimny berkode sasis JB43 ini.

Enggan menunggu lama unit tes yang biasanya disediakan oleh PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) untuk kebutuhan konten Test Drive kami, maka kami langsung menjajal mobil ini. Namun yang berbeda, tampilan mobil yang kami uji ini menjadi lebih eksklusif dibanding seluruh Jimny JB43 yang kini mengaspal di Indonesia. Ornamen karet hitam OEM (Original Equipment Manufactur) versi Inggris yang dibelinya langsung sebelum mobil dikirim mempertegas garis-garis bodi Suzuki Jimny terbaru ini.

Namun sayang. Meski mobil ini dirakit di Jepang, tapi quality control dari pihak pabrikan masih sedikit kurang teliti. Jika diperhatikan seksama, warna pada bagian bumper, fender dan sidemoulding terlihat belang. Alhasil kendati masih baru, Suzuki Jimny ini sempat masuk ruang cat oven untuk proses penyamaan warnanya.

Inilah aspek yang menjadi nilai minus di mata kami seperti disinggung di awal. Karena sudah pasti setiap konsumen ingin menerima mobil barunya dalam kondisi sempurna luar dalam. Apalagi mobil tersebut masuk dalam kategori besutan yang ikonis.

Masih bicara eksterior, pelek standar yang sudah dipensiunkan, diganti dengan satu set (5 buah) Volk Rays TE37X berdiameter 16 inci yang ditentengnya dari negeri Jiran. Sebelum dipasang, pelek ini telah mendapatkan sentuhan spesial dari Riverside Wheels di bilangan Bukit Duri, Jakarta Selatan guna terlihat seperti baru. Pilihan karet bundar Yokohama Geolandar ATS berukuran 235/60 terlihat sangat serasi dan member aksen warna tambahan di kolong fender Jimny city slicker berkelir putih ini. Sempurna.

Dengan komposisi lingkar roda berspesifikasi di atas, pengendalian tentu jadi lebih baik saat Suzuki Jimny diajak bermanuver cepat. Namun secara keseluruhan, rasa berkendaranya tidak jauh berbeda dengan versi standarnya. Pasalnya sistem suspensi juga masih mengaplikasikan bawaan pabrik.

Di jalanan dalam kota, Suzuki Jimny terbaru ini terasa sungguh jauh lebih nyaman dari Suzuki Katana generasi sebelumnya saat melibas jalanan keriting atau polisi tidur. Adopsi coil spring menggantikan leaf spring di keempat roda memberikan improvement spesial dari rasa berkendaranya.

Berbeda saat cruising 100 km/jam di jalan bebas hambatan, bantingan agresif khas Jimny masih sedikit terasa. Menurut kami mungkin karena jarak pijak roda atau wheelbase yang pendek dan masih menggunakan sasis ladder frame membuat rasa berkendara khas jip masih begitu ketara di mobil seharga Rp 285 juta (on the road) Jakarta ini.

Performa mesin M13A 1.328 cc injeksi memang tak begitu mengesankan, namun masih memiliki performa yang andal untuk mobil yang di Jepang termasuk Kei Class ini. Tenaga 83,5 dk dan torsi 110 Nm kami rasa masih mampu mengakomodir kebutuhan performa di jalan raya dan lintasan off road ringan.

Di Indonesia, lewat APM resminya Suzuki Jimny hanya dipasarkan dengan varian bertransmisi otomatik. Untuk mengaktifkan gerak empat rodanya, ada tombol selektor di bagian dasbor dengan pilihan 2WD, 4WD dan 4WD-L. Untuk berpindah dari 2WD ke 4WD (high ratio), selektor dapat langsung dipindahkan berkat fitur shift by fly  asal masih pada kecepatan aman dibawah 40 km/jam. Berbeda jika harus pindah ke 4WD-L (low ratio), kendaraan wajib dalam kondisi diam.

Jok bermodel semi bucket di kabin, terasa nyaman di punggung dan mampu menahan pergerakan tubuh saat bermanuver. Bahan fabric berwarna hitam pun tampil lebih sportif layaknya jok semi-bucket aftermarket berharga mahal.

Sayangnya untuk mobil seharga hampir Rp 300 juta, tampilan dasbor begitu minimalis, begitu pun dengan panel speedometer yang hanya memiliki fitur Multi Information Display (MID) tanpa warna. Peranti hiburan di perjalanan pun hanya sebatas headunit 2Din model tanam yang hanya menawarkan fitur radio AM/FM dan CD.

Secara keseluruhan, mobil ini cukup value for money. Bagi seorang penggemar jip 4×4 Suzuki Jimny adalah tunggangan berkapabilitas ganda yang cukup nyaman dan modern untuk penggunaan di dua alam. Apalagi jika Anda fans Suzuki garis keras, mobil ini dapat dijadikan sebuah collector item karena populasinya yang terbatas.

Kendati demikian ini tetaplah sebuah Suzuki Jimny dengan segala kesederhanaannya yang ada. Tampilan grill vertikal dengan lampu yang membulat tetaplah dipertahankan untuk tetap menjaga sisi ikoniknya.