Kedai Kopi 89 g

‘Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan’- Filosofi Kopi. Kutipan yang sempurna dari novelist Dewi Lestari ini membawa saya sejenak berpikir tentang hidup yang tak selalu mulus seperti aspal sirkuit Le Mans dan tak akan seindah dongeng 1001 Malam.

Pk. 08.00 pm. ‘Claps!’. Sampul novel best seller si Dee-pun sudah tertutup. Lamunan indah tentang hidup-pun ikut menghilang. Tapi tetap saja mata tak bisa diajak kerjasama untuk beristirahat malam minggu ini. “Suntuk!!,” teriak batin mengiba. Dan seketika. Aha! Mungkin secangkir iris coffee dan lembaran Filosofi Kopi bisa menggusar penat malam ini.

Kedai Kopi 89 c

Paduan t-shirt putih, Eric blazer series bercorak abu-abu dan celana chino coklat muda khas Hush Puppies, melengkapi gaya rambut pompadour saya malam ini. Tak ketinggalan, sebuah kacamata baca seri clubmaster, Rayban-pun telah menggantung dihidung dan siap untuk diajak hangout.  Done!. Saatnya berleha-leha!

Tak lama berselang three wheels scooter yang saya tunggangi akhirnya terparkir rapih di parking area Kedai 89, Jakarta Selatan. Dan ya, tepat di jalan Raya Kemang No.89 inilah saya menghabiskan malam minggu tanpa pasangan. Jomblo? No problemo.. Justru saya bisa membunuh waktu sambil menghabiskan bahan bacaan yang menumpuk di atas meja sambil menambah teman sebanyak-banyaknya.

Kedai Kopi 89

Melangkah masuk kedalam, atmosphere dari tantanan ruang minimalist dan lantunan jazz fusion di coffee shop ‘nyentrik’ ini seakan menyambut sepasang moccasin TOD’s berkelir navy blue yang saya gunakan.

“Mocca latte, and Burger 89 please,” pesan saya ke salah satu pelayan di Kedai 89. Sembari menunggu pesanan, disalah satu sudut ruang paling cozy, buaian lembut dari sofa berwarna coklat terang, menggelanyutkan rasa untuk lanjutkan kegiatan membuka lembar demi lembar Filosofi Kopi yang belum habis saya telan.

Kedai Kopi 89 f

Untuk mengusir jenuh, sesekali saya layangkan pandang ke sekeliling ruangan putih ini. Hamparan sofa empuk berpadan dengan kursi dan meja kayu yang colorful Kedai Kopi 89 tampak menyatu dengan atmosfir galeri seni dan toko furniture yang ada di sekelilingnya. Simple, unik, kontemporer namun tetap elegant. Bisa dibilang, paduan karya modern-nya itu makin memberikan identitas tersendiri bagi kedai yang bediri sejak tahun 2013 ini terlihat. And i like it!. Dan, menurut info, saking uniknya, café ini memang lebih sering dikunjungi oleh para konsumen yang ingin mengabadikan moment pre-wedding mereka disini.

Beberapa saat setelah asik melempar visual ke sekitar ruangan café milik Teuku Akbar Azhari ini, akhirnya… Viola! Segelas Mocca Latte dan sepiring Burger 89 pesanan saya datang juga.

Kedai Kopi 89 j

“ Hm… yummy…,” gumam saya saat mencium aroma khas dari grilled beef patty dibalik tumpukan roti burger, keju lembut dan sayur ala Kedai 89 itu. Dan tanpa babibu, slice demi slice tumpukan beef patty berselimut roti renyah pun saya lahap. Dan… oh my Goodness! Potogan daging lembut dalam burgernya, di mix dengan sauted mushroom, onion, serta formulasi unik di mayo, membuat saya seketika terbungkam seribu bahasa. Dari ribuan burger yang pernah saya cicipi, menu makanan ringan inilah yang punya taste paling unik dan sangat lembut di lidah. It’s recommended.

Kedai Kopi 89 i

Piring makananan sudah kembali kosong, saatnya menghabiskan bahan bacaaan yang sedianya menjadi peneman namun nyatanya malah saya diamkan sambil meneguk secangkir Mocca Latte plus topping sirup caramel di atas whipped cream putih nan lembut khas coffee shop berkonsep homey ini.

“ Maaf, kita sebentar lagi akan closed order, ini billing-nya,” tutur seorang waiter. Saya-pun terhentak dari posisi duduk ternyaman, setelah melihat jarum di Omega Speedmaster menunjukkan pukul 10 malam. Ooppss… Ternyata malam sudah larut. Dan saya terlalu terbuai dengan atmosphere homey yang diciptakan oleh Kedai 89 ini.