“Impianku adalah untuk membuat karya seni mekanik yang tidak terbayangkan.”

Miki Eleta masa kini adalah seorang pria yang dibentuk dari masa lalu. Pengalamannya di masa muda yang sarat akan impresi mekanis membuatnya tumbuh menjadi seorang pecinta mesin. Rayuan suara mesin, vibrasi kabin, bau asap dan perasaan mendominasi kala diajak ayahnya yang seorang masinis mengendarai sebuah kereta menjadi awal mula kecintaannya dalam dunia mesin.

Memang bila menilik teori-teori yang sudah ada, memori yang terpatri kuat hingga menimbulkan rasa kagum dapat mengubah kepribadian seseorang. Sebuah figur baru dapat tercipta dan impresi tersebut akan berada dalam alam bawah sadar dan perlahan demi perlahan menjadi bagian dalam diri pribadi tersebut.

Maka jangan heran bila Miki tumbuh menjadi seorang pengagung mesin. Dia masih menyimpan Vespa milik kakak laki-lakinya dan sepeda milik ayahnya yang berasal dari zaman Perang Dunia Kedua. Dengan hati-hati dia menyimpannya sewaktu musim dingin dan kembali dia operasikan saat musim semi datang. Sebuah ritual yang normal menurutnya dilandasi atas dasar cinta dan rasa sayang.

Kini setelah tumbuh dewasa dan memiliki banyak kemampuan, Miki tidak ingin serta merta melupakan impiannya. Dulu dia sempat berjanji untuk membuat sebuah karya seni mekanik yang sanggup membuat orang terkesima. Oleh karena itu dia langsung melirik jam tangan, sebuah pengingat waktu dimana tugas mereka sanggup membuat impresi yang dalam akan sang pemakai.

Maka demi membuat proyek ambisiusnya ini nyata, Miki menggandeng Marc Jenni, pakar pembuat jam dan mantan anggota AHC. Miki mencoba mengkolaborasikan kecintaanya pada mesin berpembakaran dalam dalam keindahan konstruksi waktu Marc. Imspirasi utamanya pun datang dari sebuah motor BMW 1950.

Sejatinya, BMW 1950 itu adalah sebuah bagian dari ingatan masa lalu Miki. Saat dirinya masih kecil, lingkungan sekitarnya kerap membesut motor tersebut untuk aktivitas mereka. Bunyi detak jantung mesin bagai sebuah orkestra yang selalu mengalun dalam kepala Miki hingga sekarang. Rima ‘tik-tak’ itulah dasar dari Timeburner.

Layaknya sebuah mesin yang mentransformasi energi kimia dari bensin menjadi energi gerak mekanik, Timeburner mampu menduplikasi mekanisme tersebut sebagai dasar dari penghitungan waktunya. Panas dari sang pengguna jam sanggup memberikan energi untuk menggerakkan roda-roda kecil di dalamnya. Sementara itu di luar, piston pengitung menit terus bergerak memutar torak di dalam dan angka demi angka pun bergerak, seiring dengan sang waktu berjalan.

Timeburner adalah sebuah nostalgia kepada mesin pembakaran dalam pada jaman mula-mula. Energi mentah yang dihasilkan dari suara bising, oli dan krom. Sebuah testimoni kepada sang pengguna, baik pria maupun wanita, yang sudah melalui masa-masa tersebut dan mampu menaklukannya.