IMG_4806_resize

“Sebuah brand yang bagus adalah brand yang menghargai history-nya”, ungkap General Manager PT. Triumph Motorcycle Indonesia di sela-sela acara Media Workshop beberapa waktu lalu. Berawal di 1902, Triumph mencangkok mesin Minerva bertenaga 2,2 hp pada sepeda produksinya.

Kemudian pada 1936,  Triumph menggaet seorang disainer ternama, Edward Turner. Sang disainer ini menciptakan Triumph Speed Twin dengan mesin 498cc. Pada 1940 di tengah Perang Dunia, pabrik Triumph dihantam sebuah bom berkekuatan besar dan luluh lantak. Sehingga terjadi perumahan karyawan sementara dan mulai beroprasi di pabrik baru yang bertempat di Meridien pada 1942. 13 tahun kemudian mulailah era Bonneville yang menjadi model ikonik dari Triumph yang dipopulerkan oleh Johnny Allen lepas membesut Bonny dengan kecepatan puncak 193 mph. Rekor ini tetap dipegang oleh Bonneville selama 15 tahun.

Di 1983 Triumph dibeli oleh seorang pengusaha property bernama John Bloor, ia adalah seorang pengusaha yang juga pecinta motor. Di tangan Bloor, Triumph seperti dihidupkan kembali, dan tak tanggung-tanggung Triumph langsung meluncurkan enam varian baru demi membuktikan eksistensinya di tahun 1990 .

Pada 2000 model ikonik dari Triumph, Bonneville kembali meluncur dengan penyesuaian fitur dan teknologi. Para teknisi pabrikan yang bermarkas di Hinckley, Leicestershire ini mengadaptasikan teknolog twin parallel di ruang mesin.

Hingga akhirnya di 2014, Triumph membangun 7 pabrik yang tersebar di Inggris, Thailand, India, dan Brazil. Pabrikan motor yang mengutamakan ‘Real Riding Experience’ ini memiliki share market motor di atas 500cc sebesar 6,2% seluruh dunia.