Sebuah eksebisi digelar oleh Ferrari dalam rangka selebrasinya yang ke 70 tahun di Design Museum, London, Inggris mulai 15 September 2017 hingga 15 April 2018 mendatang. Hal ini menjadi spesial bagi Ferrari lantaran pabrikan kuda jingkrak ini menghadirkan sebanyak 14 buah karya terbaiknya sejak pertama kali dibuat pada 1947 silam.

Pameran ini benar-benar menampilkan Ferrari dalam kondisi superb sebagai sebuah benda koleksi yang hanya dibuat dalam jumlah terbatas dan bisa dibilang jarang terlihat di dunia.  Lewat gelaran bertajuk Ferrari : Under the Skin ini, Ferrari ingin memberikan wawasan bagi para pengunjung soal bagaimana sebuah manufaktur mobil membuat sebuah karya yang teliti, glamor dan terkurasi baik secara berurutan bagaikan sebuah timeline perjalanan Ferrari hingga di usianya yang mencapai 70 tahun.

(Baca juga : Sekarang Dealer Ferrari Sah Rawat Ferrari Klasik)

Sebut saja sebuah unit spesial beridentitas Ferrari 125 S yang merupakan karya perdana dari Enzo Ferrari. Replika besutan balap pasca era perang dunia kedua ini merupakan sebuah memorabilia Ferrari yang hadir bersama dengan lisensi mengemudi Enzo Ferrari, fotografi asli di lintasan balap dan dokumen kelengkapan mobil saat pertama kali dibuat. Di bagian ini, Ferrari juga menceritakan kisah soal Enzo Ferrari yangtak kenal lelah menciptakan sebuah kendaraan dengan gaya dorong tenaga yang sempurna untuk lintasan balap dan jalan raya.

Di pemberhentian selanjutnya, ada sebuah bentuk sculptural atau pahatan bagaimana cara Ferrari merancang aerodinamika terbaiknya saat meracik sebuah 250 LM untuk menjadikannya raja di lintasan balap era 1960-an. Pengembangan dari desain tanah liat hingga aktualisasi bentuk bodi dalam bahan pelat bisa dilihat di seksi kedua pameran ini.

Tak kalah penting, sebuah Ferrari 250GT yang menjadi besutan balap Sir Stirling Moss di medio 1960 – 1961 silam dan 250 GT Cabriolet lansiran 1957 yang dimiliki oleh salah satu pembalap balap Inggris paling terkenal sepanjang masa, Peter Collins. Keduanya telah menjadi saksi bagaimana kedigdayaan Ferrari saat itu yang kerap menjadi kampiun kompetisi di masanya. Besutan-besutan balap Ferrari ini terparkir di ruangan ketiga berurutan hingga ke era modern saat Michael Schumacher meraih titel juara dunia ketiganya di tahun 2000 lalu dan membawa gelar juara dunia konstruktor pertama kalinya setelah 21 tahun.

Di Ferrari : Under the Skin ini, Ferrari juga menghadirkan beberapa unit Italian pride sportscar milik pada selebritis papan atas dunia seperti Ferrari F40 1988 milik drummer Pink Floyd Nick Mason dan 166 MM 1950 milik Gianni Agnelli. Pameran ini juga menghadirkan beragam Ferrari yang dikembangkan atas masukan dari selebriti Ferrari yang luar biasa untuk ikut membangun Ferrari sebagai merek yang kita kenl saat ini, seperti Miles Davis, Clint Eastwood, Sammy Davis Jr, Brigitte Bardot dan Peter Sellers.

Pada puncaknya, Ferrari menghadirkan sebuah mahakarya LaFerrari Aperta, yang dimiliki oleh koki ternama Gordon Ramsay yang merupakan Ferrari paling berteknologi maju sampai saat ini. Kendaraan hibrida ini disertai sketsa konsep dan tampilan yang mendalam pada mesin.

Dalam sebuah kesempatan, Sir Terence Conran, pendiri Museum Desain mengatakan, saya pikir saya berbicara atas nama jutaan orang ambisius dari segala umur bahwa pada suatu saat kita memiliki mimpi indah memiliki Ferrari. Merek itu sendiri telah menjadi simbol keberhasilan desain di seluruh dunia, baik itu model jalan atau mobil Grand Prix mereka. Cerita Ferrari benar-benar merupakan salah satu kisah petualangan besar abad industri dan saya sangat bangga bisa menceritakannya di Design Museum.