Vespa Sprint 1

Sejarah dan bahasa desain berkarakter yang acapkali diterapkan pada setiap produk yang dihasilkannya membuat brand yang satu ini memiliki penggemar tersendiri yang masuk dalam kategori fanatik. Ya, Vespa memang sudah merasuk ke dalam darah sebagian besar penggiat otomotif di dalam negeri. Tidak hanya menjadi sekedar gaya hidup, namun sudah mengakar menjadi jalan hidup. Tak heran jika komunitas Vespa di bumi pertiwi menjadi nomor dua yang terbesar di dunia, setelah Italia tentunya.

Vespa Sprint side 1

Ah, legenda Vespa memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Mau diulas dari sudut manapun, skuter produksi Piaggio & Co. S.p.A ini pasti memiliki kisah menarik. Seperti yang saat itu kami lakukan di sebuah sudut kedai kopi pinggir jalan di bilangan Kemang. Saat kongkow bersama beberapa orang rekan pecinta Vespa, kami sedikit membahas dua Vespa yang kebetulan parkir berdampingan. Vespa Sprint lansiran 1968 dan Vespa Sprint terbaru.

Vespa Sprint headlight

 

Aura Sprint klasik yang sporti jelas menjadi inspirasi dari Sprint modern. Mulai dari bodi berotot hingga lampu depan rectangular nan sporti. Pendapat ini diamini oleh Chief of Piaggio Styling, Marco Lambri dan Alessandro Bagnoli selaku Chief Project Engineer and R&D Manager Piaggio yang mengatakan bahwa sudah saatnya menghadirkan tampilan yang lebih maskulin pada Vespa modern dan lingkar besi berdimensi lebih besar merupakan langkah awal. Oh ya, untuk urusan sepatu keduanya memang memiliki perbedaan. Jika versi klasik mengadopsi dimensi 10 inci, maka velg Sprint modern berukuran 12 inci. Ukuran ini juga berbeda jika dibandingkan sang kakak, Primavera yang menggunakan velg 11 inci.

Vespa Sprint velg

Well, sepertinya sudah saatnya saya menjajal performa motor berkelir grigio titanio ini sambil menikmati gemerlap lampu kota serta hembusan angin malam. Tidak sedikit orang yang menutup sebelah mata akan performa Vespa modern. Bodi besi dengan sistem transmisi otomatis membuat banyak orang cukup skeptic. Kebanyakan berkata “Tarikannya berat, dan larinya ketahan sama bodi yang besar.” Mungkin kini sudah saatnya membuktikan anggapan tersebut.

Vespa Sprint Grille

Bukaan gas awal yang memerintahkan mesin 3 katup 154, 8 cc untuk bekerja sontak mematahkan opini tadi. Bahkan membuat model lain penganut lumbung pacu 2 valve serta 3 valve sekalipun menjadi jauh tertinggal. Tentunya performa juga terbantu berkat penggunaan velg berdimensi 12 inci tadi yang membuat langkah Vespa Sprint makin panjang. Aplikasi Continuous Variable Transmission juga mampu melayani beragam cara berkendara, agresif atau santai.

Vespa Sprint logo

Melibas tikungan juga kian PD setelah Piaggio menerapkan Enhanced Sliding Suspension(ESS) di kaki-kaki. Lupakan kenyamanan berlebih, pasalnya karakter Vespa Sprint yang sporti membuat suspensi menjadi sedikit lebih keras ketimbang Vespa LX 150 di rumah. Tujuannya tentu saja agar pengendalian saat bermanuver menjadi lebih mantap.

Vespa Sprint dashboard

Beralih ke kokpit, perpaduan nuansa modern dan klasik jelas tertera di sini. Panel instrument dengan speedometer analog tampil apik dipadankan dengan multi information display digital dengan pendaran LED untuk informasi bahan bakar, tripmeter serta jam digital yang diaktifkan lewat tombol menu di stang. Mau mencoba rute alternatif ke rumah pacar demi jarak tempuh terdekat? Bisa..

Vespa Sprint handlebar

Puas melipur adrenalin yang sedari tadi melonjak membuat kami memutuskan untuk kembali ke gerai kopi tadi guna sekedar melepas lelah. Pergunjingan yang masih seputar Vespa membuat waktu berjalan cepat. Hingga tanpa terasa ufuk di timur sudah menyingsing memendarkan guratan mentari yang terpolarisasi ditingkahi dengan merdunya celoteh binatang pagi. Ini saatnya kami kembali ke rumah dan bercumbu dengan peraduan.