VW Golf TSI MK7

Mentari masih malu-malu memancarkan sinar pagi ini, namun tubuh tetap harus diajak beranjak dari kasur empuk untuk mengawali ritual sehari-hari. Guyuran air hangat yang keluar dari shower sontak terasa menyegarkan dan sanggup membuat rasa kantuk sirna. Well, tidak perlu diceritakan lebih detail tentunya soal ritual tersebut.

VW Golf TSI MK7 (7)

Yang pasti lepas mengenakan classic crew neck sweater yang membungkus bold polka dotnya Fred Perry serta  Stanino cotton dress pants koleksi Hugo Boss saya sempat kebingungan menemukan sepatu yang cocok. Bukan apa-apa. Masalahnya mobil yang mau saya pakai hari ini adalah sebuah Volkswagen Golf MK7 yang notabene masuk kategori hot-hatch. Jadi jangan sampai salah kostum biar tidak kalah hot dibanding mobilnya.

VW Golf TSI MK7 (1)

Voila, dibawah tempat saya biasa menyimpan kunci mobil teronggok sepasang Oliver Sweeney Hawthorn edition. Cocok dong menggunakan sepatu berbahan karbon untuk memacu sebuah Golf mk7, sama-sama sporti. Sejurus kemudian saya bersama VW Golf VII TSI sudah berada di jalan bebas hambatan menuju lokasi meeting yang berada sedikit di luar kota. “Nakal sedikit tidak kenapa,” pikiran tersebut kerap menggelitik saat kondisi jalan di depan kosong melompong. Mungkin karena saya harus melawan kepadatan lalulintas. Hmm.. Boleh juga nih sedikit bermain dengan sistem transmisi DSG 7 percepatannya untuk merasakan sensasi mesin 1.4 liter TSI-nya.

VW Golf TSI MK7 (2)

Ok, Let’s play dude! Masukkan shift knob ke posisi D, geser sedikit ke kiri dan kontrol langsung sistem transmisi Direct Shift Gearbox untuk merasakan sensasi tenaga 140hp dengan torsi 250Nm yang dihasilkan mesin bawaan VW Golf 1.4 TSI mk7. Ok, saatnya bejeg gas semaksimal mungkin, hingga raungan mesin 1.395cc masuk ke kabin elegan si hot hatch. Damn! Hentakan pertama-nya buat saya terdorong ke belakang, dan beruntung sekali ada sofa semi bucket berbalut kulit hitam yang menopang badan saya. Dan sedikit info, kendaraan yang saya bawa ini pernah dinobatkan sebagai  ‘World Car of The Year 2013, karena ia sang­gup menuntaskan 0-100 km/jam dalam waktu 8,4 detik saja, namun terbukti handal dalam meng­irit konsumsi BBM.

VW Golf TSI MK7 (10)

“Segitu aja nih boss?”, goda si hot-hatch dengan raungannya. Apalah daya, saya-pun kembali tertantang. Wuuussssh… saya kembali melesat dengannya. Dan meski bantingan suspensinya terasa cukup keras. Gerakan sasis juga terasa cukup kaku. Tapi saya melihatnya masih dalam taraf wajar dan layak untuk dipakai harian. Ya, sistem suspensi mobil berkelir putih ini terbilang masih cukup mudah untuk di kontrol saat meliuk-liuk melintasi beberapa mobil yang berjalan lebih pelan. Untungnya, rubber sole yang melengkapi sepatu Oliver Sweeney tak kalah handal. Membuat kaki saya lincah bermain di antara deretan pedal.

VW Golf TSI MK7 (14)

Tak hanya kaki yang lincah menari diatas pedal, paket karakter steering dan handling si hatchback Front Wheel Drive (FWD) ini juga sangat membantunya bermanuver. Ya, kedua taste khas kendaraan Eropa ini begitu responsif mengikuti setiap keinginan saya, dan juga mantap plus stabil di segala medan yang saya lewati bersamanya.

VW Golf TSI MK7 (5)

Jalan di daerah Kemang terasa lapang, tak tercium bau kemacetan. Kegiatan maneuver-pun berjalan lancar tanpa hambatan, tapi tiba-tiba, ciiittt….. hard braking! Huft… untung saja paket pengereman kendaraan ini begitu cepat merespon keadaan. Golf dan saya mulai merangkak perlahan melewati area Kemang yang padat. Mood-pun mulai kacau. Tapi untunglah ada paket in car entertainment canggih ditopang perangkat pengeras suara mumpuni yang dapat menggusur jenuh di tengah kemacetan dan beat dari lagu ‘Stay the Night’ by Zedd, kembali membangkitkan semangat saya menjelang senja. Done! Wine Boutiques, Vin+, sudah ada dihadapan. Fiuh… Saatnya bercengkerama sejenak bersama sahabat dan meninggalkan kenyamanan si VW Golf 1.4 TSI di parking area.