ekspor toyota

Toyota Indonesia memulai ekspor komponen pertama kali pada tahun 1988, dimana volume ekspor meningkat secara signifikan tahun 2004 saat dimulainya proyek International Innovative Multi Purpose Vehicle (IMV). Produk yang diekspor Toyota selama ini mencakup 700.000 Complete Knock Down (CKD) parts, 477 juta komponen kendaraan, 1 juta unit mesin utuh, 8 juta unit komponen mesin, 215 alat produksi pencetak pengepresan, dan 603 alat bantu dalam proses pengelasan.

Dalam empat tahun terakhir eksport mobil Toyota dalam bentuk Complete Build-up Unit (CBU) meningkat dari 55.796 unit pada tahun 2010 menjadi 118.436 unit atau naik 112,27%, dan ditargetkan dapat tumbuh sebesar 30% pada tahun ini. Produk CBU pertama yang diekspor Toyota adalah Kijang Super atau Kijang generasi ke-3 ke kawasan Asia Pasifik dan produk Toyota telah diterima dengan baik di lima benua dengan total lebih dari 70 negara di dunia dengan niali ekspor mencapai lebih dari $12 milyar sejak ekspor perdana.

Dan pagi ini PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengumumkan pencapaian ekspor komponen kendaraan yang telah mencapai 100.000 kontainer yang dihadiri oleh Menteri Perindustrian RI M.S Hidayat, di Sunter.

Presiden Direktur TMMIN Masahiro Nonami mengatakan dalam perkembangan industri manufaktur sangat mengapresiasi iklim investasi yang dijaga dengan baik oleh pemerintah Indonesia. “Kami yakin apabila pemerintahan yang baru nanti fokus ke infrastruktur seperti jalan raya dan pelabuhan, Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan,” ujar Masahiro kepada SP Jumat (20/6) pagi. Masahiro yakin ke depannya akan lebih cerah dan menjanjikan serta membawa keuntungan ekonomi bagi Indonesia.

Menteri Perindustrian RI M.S Hidayat dalam sambutannya mengucapkan selamat atas keberhasilan Toyota dalam menumbuhkan daya saing eksport Indonesia dalam bidang manufaktur.

“Kinerja dari Toyota yang sangat baik ikut memacu pertumbuhan ekonomi dan industri otomotif Indonesia,” ujar Hidayat.

Hidayat mengatakan agar Toyota selalu mengutamakan bahan-bahan lokal dalam pembuatan komponen manufakturnya. “Saya harap perumbuhan ini dapat terus ditingkatkan ke depannya,” tutup Hidayat.