150213_1703969042822_7626361_nPopulasi Volkswagen yang menjamur serta kodratnya sebagai mobil rakyat membuat mobil-mobil yang keluar dari line produksi pabrik asal Wolfsburg, Jerman ini tidak masuk dalam daftar incaran kolektor-kolektor mobil klasik. Bahkan, menurut seorang kolektor VW bernama Yanto Widodo ini, bisa dibilang kalau Volkswagen itu masuk dalam kasta terendah dibanding mobil-mobil yang biasa dikoleksi oleh para penggemar mobil klasik.

Namun justru di situ serunya. “Sebagai mobil rakyat, sudah pasti mobil ini digunakan setiap hari. Jadi mungkin karena hal tersebut, maka sangat jarang bisa menemukan mobil-mobil VW dalam kondisi yang bagus. Justru itulah value nya. Bagaimana cara membangun sebuah mobil yang sudah bobrok dan mengembalikannya ke kondisi semula seperti saat keluar dari pabrik benar-benar menjadi tantangan tersendiri bagi saya,” jelas pehobi tenis ini.
227503_1053757947951_8513_n

Tertipu Karman Ghia Type 3

Sebuah VW Kodok ragtop pemberian teman di tahun 2000 menjadi proyek awal Yanto Widodo. Kesulitan-kesulitan yang mendera saat baru bermain VW justru memacu semangatnya untuk belajar lebih banyak. “Tidak sedikit dana yang sudah saya habiskan serta paling tidak sempat tiga kali pindah-pindah bengkel. Setelah pengetahuan saya bertambah baru saya mulai memutuskan untuk mengkoleksi Karmann Ghia. Alasannya karena populasinya yang jauh lebih sedikit ketimbang VW Kodok,” beber Presiden Direktur dari sebuah pabrik plastik kemasan ini.

Mulai dari sinilah “malapetaka” itu terjadi. Saat pertama kali membangun Karmann Ghia Type 3,Yanto merasa dibohongi oleh beberapa toko spare part langganannya. “Mereka bilang kalau masih menyimpan komponen-komponen Type 3 yang notabene sudah tidak diproduksi lagi,” sesalnya. Solusinya, hampir semua bagian di-rebuild secara hand-made. “Body part orisinil hanya tersisa di bagian kap atas, setengah bagian pintu dan bonnet. Sementara sisanya dibuat dengan menggunakan tangan. Namun disinilah serunya. Saya merasa tertantang untuk membuktikan bisa merestorasi mobil seperti kondisi saat keluar dari pabrik meskipun menggunakan bahan yang sangat hancur dengan mengorbankan beberapa mobil yang sapre partnya saya kanibal,” tambah Yanto.
935011_10151576433524531_212290407_nLiteratur dan Networking

Meski bukan termasuk mobil yang masuk dalam collector item list, namun Yanto tetap merestorasi deretan Volkswagen yang dikoleksinya dengan sangat detail dan penuh komitmen untuk membuktikan passion yang dimilikinya. Seperti diketahui, banyak sekali jenis-jenis mobil yang diproduksi oleh VW. Jadi bisa dibayangkan kalau merestorasi sebuah mobil tanpa didukung dengan pengetahuan yang mencukupi, hampir bisa dipastikan mobil tersebut akan memiliki hasil akhir tidak seperti yang kita inginkan. “Meskipun punya uang banyak, belum tentu bisa membangun mobil dengan sempurna. Walaupun merestorasi Volkswagen menggunakan konsep minimalis, namun kita harus memperhatikan detail bodinya. Lekukan-lekukan di etiap bagian harus sangat presisi. Nah, disinilah pentingnya literatur,” jelas Yanto.

25849_1367455470193_4169862_nTidak seperti kolektor mobil klasik lainnya yang kerap menambah pengetahuan lewat berbagai literatur seperti buku, majalah hingga internet, pria kelahiran Bandung 42 tahun silam tersebut juga menjalin komunikasi dengan beberapa komunitas Volkswagen mancanegara. Contoh kongkritnya adalah saat sedang membangun Volkswagen Heb Muller tahun 1949 yang masuk dalam kategori very rare, Yanto bersama team mate-nya, Michael Lesmana, kerap berkorespondensi dengan para pemilik Heb Muller di berbagai negara. Dari hanya sekedar berbagi informasi sampai bertukar spare part. “Selain literatur, memperbanyak koneksi dan relasi dengan para penggemar VW di negara lain juga salah satu hal yang penting. Karena biasanya komunitas-komunitas tersebut juga mau saling membantu untuk melestarikan mobil yang populasinya sudah langka,” ungkap Yanto mengakhiri perbincangan.