Harry Pantja 1

Berangkat dari penampilannya yang memukau di film Jaelangkung, pria kelahiran Jakarta 13 desember 1970 ini melejit namanya hingga menjadi identik dengan kata horror. Bahkan, sosoknya yang gundul dan misterius seolah menjadi ikon untuk acara mistis di salah satu TV swasta yang kerap menguji nyali seseorang. Harry Pantja kini bercerita tentang pengalamannya di dunia hiburan, pandangannya akan industri televisi masa kini dan kegemarannya pada dunia otomotif.

Harry Pantja

Ceritakan pengalaman kamu pertama kali terjun di dunia hiburan?
Dulu ada syuting video klip, bintang tamunya enggak datang soalnya takut syuting jadi orang yang nantinya mati. Akhirnya saya yang terpilih, karena pas lagi nganggur. Cocok dan ada yang lihat lalu disuruh casting untuk film. Tahun 2000 lolos casting untuk film Jaelangkung, meranin tokoh yang gila tentara namun angkuh.

Kemudian apa yang terjadi?
Film tersebut akhirnya meledak. Pertama kali sih memang bukan ditujukan untuk bioskop tetapi tayang di televisi. Di situlahformula horror Jose dan Rizal Mantovani teruji. Lantaran beda dari yang lain, makanya sukses. Malahan sampai ada yang nonton 5 kali cuma buat ngagetin temannya.. Hahahaa…

Harry Pantja 3

Terus bagimana bisa jadi host di Dunia Lain?
Ternyata penampilan saya di film itu disukai, langsung dikontak Trans TV buat memandu acara yang bertema horror. Saya jadi host di sana selama 3 tahun.

Kenapa memutuskan untuk berhenti?
Karena sudah diluar konsep. Alih-alih menyajikan tayangan horror beredukasi, dengan menyertakan sejarah, diubah menjadi semacam kuis, hanya uji nyali doang.

Jadi menurut kamu harus ada edukasinya?
Tepat! Kalau di Indonesia yang enggak bakal ada habisnya itu komedi dan mistis. Mau dikupas bagaimanapun orang pasti akan tertarik. Cuma untuk lebih memajukan bangsa, harus ada sisi edukasinya, tidak cuma menakut-nakuti orang saja.

Harry Pantja 2

Jadi gimana pendapat kamu tentang tayangan televisi jaman sekarang? Sebut saja salah satu sinetron yang jadi kontroversi hingga penayangannya dihapuskan.
Kalau dari sudut pandang saya, serial itu mengkopi film luar, kalau enggak salah Twilight. Memang kecenderungannya pembuat sinetron seperti itu, meniru apa yang telah sukses. Tapi sinetron itu sih memang tidak jelas.

Maksudnya tidak jelas?
Twilight kan film fiksi yang sekali tayang selesai. Kalau ini tidak, dipanjang-panjangin. Ini dia yang disayangkan, buat konsumsi publik. Target audiencenya juga samar, buat anak-anak juga tidak pantas, tapi buat remaja juga menjerumuskan.

Lalu menurut kamu, bagaimana sebaiknya yang bagus?
Saya punya teman, dia buat acara bagus. Di acara itu pria yang rada ke perempuan-perempuanan dibikin jadi laki-laki beneran. Itu baru bagus.

Harry Pantja 4

Ada yang lain?
Ya, kalau jaman sekarang, saat akses ke TV kabel menjadi makin murah, banyak tayangan bagus disana. Namun juga harus pandai memilah, ada juga yang tidak cocok buat anak-anak karena ada unsur dewasa. TV lokal seharusnya meniru pola yang sama.

Bisa berikan contoh?
Ya sebut saja laptop si Unyil atau Si Bolang. Tayangan tersebut mengedukasi anak dengan lebih memperkuat sisi Indonesia. Itu baru bagus.

Bagaimana ceritanya bisa gandrung dengan dunia otomotif?
Saya pertama kali belajar naik motor kelas 6 SD. Sesudah itu punya mobil, lalu kini jatuh cinta dengan Vespa.

Harry Pantja 5

Ada apa dengan Vespa?
Bentuknya lucu kalau untuk model lama. Untuk keluaran baru fitur-fiturnya oke. Apalagi kalau berbicara tentang teknologi immobilizer. Bodi Vespa juga jadi satu sama frame, bikin lebih awet dan safety. Jadi kalau terjatuh enggak terlalu beresiko dan berkendara pun jadi lebih stabil.

Punya mobil atau motor idaman? 
Jeep sih asik, tapi saya suka ngebut juga, makanya dulu sempat punya EVO 3 GTI. Kalau yang simpel dan kemungkinan bisa terjangkau itu Mini Cooper. Kalau motor sih yang enak dibawa kayak Vespa atau Triumph Bonneville. Pakainya gantian. Vespa 7 hari terus Bonnevillenya 3-4 harilah, hehe..

Motto hidup kamu?
Mencari kesuksesan di dunia dan akhirat.