Sungguh tidak lazim mendengan motor Suzuki A200 ditengah tengah masyarakat. Jika kita berkaca pada awal kemunculan Suzuki A100 menjadi pionir bagi Suzuki untuk masuk pasar Indonesia pada medio 1973.

Bahkan Suzuki A100 sempat dijadikan kendaraan dinas POS Indonesia kala itu. Tak jarang kini Suzuki A100 masih banyak yang menggunakan plat merah. Menjadi incaran kolektor bukan malah membuat motor ini direstorasi seperti bentuk awal. Psychoengine justru malah melakukan kustom du berbagai sektor.

Kustom motor menjadi bagian dari seni yang menggunakan media motor dengan bahan dasar besi. M. Yusuf Adib, builder Psychoengine mengkustom motor Suzuki A100 menjadi motor kecil bermesin V-Twin Suzuki A200.

Filosofi hewan Kumbang menjadi acuan terbentuknya motor Suzuki A200 V-Twin. M. Yusuf Adib menggambarkan prosesnya Siklus yang dialaminya juga seperti kumbang, mulai dari telur (pembuatan sketsa motor), berubah menjadi larva (pembuatan motor), dan kemudian menjadi kumbang dewasa (hasil akhir).

Motor kustom dengan basis mesin A100 memiliki tampilan seakan Honda monkey, mulai dari dimensi, ukuran tangki, bagian kaki kaki hingga beberapa komponen pendukung yang ukurannya lebih kecil.

Sementara pada sektor engine motor yang awalnya berkapasitas 98cc satu silinder diubah menjadi mesin V-Twin dua silinder 2-tak. Dengan begitu seluruh bagian rangka disesuaikan untuk menopang mesin tersebut.

“Selama ini, kumbang diketahui mampu mengangkat beban 850 kali dari berat tubuhnya. Hal yang sama ingin ditunjukkan oleh Psychoengine yang mencoba tampil nyentrik dengan olahan bodi kecil, tapi mampu mengangkat beban atau tenaga besar,” tambah Yusuf sapaan akrabnya.

Psychoengine bukan lah pemain baru dalam hal kustom engine. Beberapa karyanya sudah melenggang hingga ke mancanegara. Seperti yang sudah Anda ketahui beberapa karyanya diantaranya Honda Tiger 5 silinder atau lebih dikenal Naga Lima, H-D Spoester W engine dan lain lainnya.